Senin, 11 November 2019

Periode Inggris Modern - Introduction to English Literature


                                                          Sesi 7
Periode Inggris Modern

Nama Mata Kuliah                : Introduction to English Literature
Kode Mata Kuliah                 : PBIS 4223
Penulis                           : Darminah

Pada sesi 7 ini Anda akan mempelajari periode Inggris Modern yang berlangsung mulai tahun 1900 sampai dengan tahun 1950. Materi sesi 7 diambil dari Modul 6 mata kuliah Introduction to English Literature. Inisiasi yang ke 7 ini akan mengantarkan Anda dalam memahami latar belakang sosial masyarakat periode Inggris Modern, ciri-ciri karya sastra, beberapa pengarang dan karya-karyanya, serta beberapa contoh karya sastra baik prosa, puisi maupun drama yang dihasilkan pada periode tersebut.
Latar belakang sosial masyarakat Inggris periode Modern mempunyai pengaruh penting dalam perkembangan kesusastraan Inggris pada periode Inggris Modern. Pengaruh tersebut memberikan ciri khas modernisme dalam karya sastra Inggris.
Sesi 7 membahas:
1.     latar belakang masyarakat Inggris periode Modern
2.     ciri-ciri karya sastra Inggris periode Modern
3.     karya sastra Inggris periode Modern
         

1.     Latar Belakang Sosial Masyarakat Inggris Periode Modern

Pada pembahasan yang pertama ini, Anda akan mempelajari latar belakang sosial masyarakat Inggris periode Modern (1900-1950), ciri-ciri karya sastra pada periode ini, beberapa pengarang dan karya-karyanya. Disamping itu diberikan pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan pada periode ini.

a.     Beberapa problema sosial periode Modern
         
Kemajuan pesat yang dicapai di bidang ilmu dan teknologi di zaman Modern ini telah membawa manusia pada suatu kehidupan yang serba kecukupan di bidang sandang, pangan, dan papan khususnya di Eropa Barat dan Amerika Utara. Jumlah penduduk berkembang pesat karena pelayanan kesehatan yang jauh lebih baik daripada periode sebelumnya. Namun di balik semua keberhasilan itu, periode ini dianggap pula sebagai periode kehancuran dan kesengsaraan sebagai akibat timbulnya dua perang dunia (I dan II), bahkan ancaman perang dunia III masih ada. Dua perang dunia tersebut telah menyebabkan 2/3 penduduk dunia terancam kelaparan. Pertambahan produksi pangan tidak seimbang dengan pertambahan jumlah penduduk. Kemajuan di bidang angkasa luar seyogyanya diimbangi pula dengan kondisi dimana seluruh manusia di dunia ini cukup sandang, pangan, dan papan. Di samping itu, kemajuan-kemajuan di bidang ilmu dan teknologi tidak diikuti dengan perkembangan-perkembangan ide-ide baru yang bersifat universal. Ide-ide yang membelenggu pikiran kita pada periode ini masih berasal dari periode sebelumnya. Komunisme, Sosialisme, Fasisme serta Anarkisme di bidang politik adalah produk periode Victoria (abad ke-19). Juga teori evolusi, yang demikian tersohor serta Freud, bapak psikoanalisa adalah milik masa lalu (abad ke-19). Gagasan-gagasan yang mengatur hubungan antar manusia dan gagasan keagamaan semuanya adalah milik abad ke-19.
Yang benar-benar milik abad ke-20 ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan atom, elektron, proton, galaksi serta bintang-bintang. Teori relativitas serta para ahli nuklir serta gagasan-gagasan abstrak lainnya menjauhkan manusia dari hakikatnya.

b.    Tatanan sosial politik Inggris periode Modern

Beberapa hal yang penting yang terjadi pada periode ini ialah bahwa Inggris telah kehilangan kekuasaannya yang dominan seperti yang dimilikinya pada periode sebelumnya. Inggris berada di posisi ke-3 setelah Amerika dan Rusia. Masalah berikutnya adalah, Inggris harus menghadapi dua perang dahsyat yang telah menyebabkannya banyak kehilangan dana dan daya, pemuda serta kekayaannya, khususnya selama perang dunia ke-2 (1939-1945). Juga hilangnya banyak kapital/modal di luar negeri Inggris. London bukan lagi merupakan pusat modal dunia.
Hal lain yang terjadi di Inggris pada periode ini adalah usaha menaikkan standar kehidupan bangsa Inggris, baik di bidang kesehatan, kesempatan kerja, perumahan, pendidikan ataupun pemberian tunjangan pada sejumlah besar penduduk, melalui partai Liberal yang kemudian dilanjutkan oleh partai Buruh. Setiap orang menyumbangkan sejumlah kekayaan yang mereka miliki untuk kepentingan program kesejahteraan ini.
Dalam paruh abad ini terjadi perubahan dalam tatanan kenegaraan. "British Empire" berubah menjadi "British Commonwealth". Perubahan ini bukanlah sekedar perubahan nama, Irlandia, kecuali Ulster, menyatakan kemerdekaannya sebagai negara Republik Irlandia pada tahun 1921. India dan Pakistan, meskipun masih menjadi negara Commonwealth merdeka pada tahun 1947. Pada awal abad ini, Australia, Canada dan New Zealand, menjadi negara dominion. Negara-negara di Afrika Barat seperti Ghana dan Nigeria, menciptakan pemerintahan sendiri dengan bantuan Inggris. Ide dibalik "British Commonwealth" ini telah memberikan inspirasi pada konstitusi Amerika. Hubungan Inggris dengan negara-negara commonwealthnya serta dominionnya saat ini lebih bersifat "sentimental" daripada "financial".
Sebagai akibat dari "reform bills" parlementer yang disahkan pada periode Victoria (lihat Modul 5 sub-pokok bahasan 1), tumbuhnya pemerintahan sendiri yang kokoh serta hak milik yang meluas, pengawasan pemerintahan, baik di Inggris maupun di koloni-koloninya, bergeser dari aristokrasi ke golongan menengah dan rendah. Masyarakat, terutama golongan menengah, menikmati hasil kemakmuran yang cukup tinggi dengan kemajuan di bidang ekonomi. Namun di pihak lain banyak kecaman yang terlontar dari beberapa penulis akibat merajalelanya materialisme, rasa puas diri serta tumpulnya rasa estetis. Kecaman-kecaman tersebut dilontarkan diantaranya oleh para penulis muda Inggris seperti Kingsley Amis, John Osborne, dan John Braine.

2.     Ciri-ciri Sastra, Para Pengarang, dan Karya Sastra Inggris Periode Modern

Pada pembahasan ke dua, Anda akan mempelajari ciri-ciri karya sastra pada periode Modern, beberapa pengarang dan karya-karyanya. Disamping itu diberikan pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan pada periode ini.
Mempelajari  ciri-ciri karya sastra periode Modern sangat penting karena dapat memudahkan pemahaman Anda terhadap karya-karya sastra Inggris baik yang berbentuk puisi, prosa maupun drama dalam periode ini. Setelah mempelajari pembahasan ke dua ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan ciri-ciri karya sastra Inggris periode Modern, pengarang serta karya-karya pada periode ini.

Ciri-ciri karya sastra pada periode Modern. Satu hal penting yang perlu dicatat pada periode ini adalah hilangnya optimisme bermula dari zaman Victoria seperti yang telah diperlihatkan oleh penyair-penyair periode tersebut, Siegfried Sassoon (1886-1967) serta Robert Graves (1885-1985) dan yang juga terlihat pada karya-karya Bernard Shaw (1895-1950), H.G. Wells (1866-1946) serta Arnold Bennett (1867-1893) sirna dari khasanah sastra Inggris. Para pengarang muda lebih cenderung bersifat menghindar dari masyarakat ramai. Kesusastraan tidak lagi mendapat tempat di kalangan masyarakat luas. Kesusastraan dianggap hanya santapan bagi sekelompok kecil masyarakat yang berbudaya. Pokok pikiran lama yang menganggap bahwa kesusastraan dapat dinikmati oleh segala lapisan masyarakat, oleh hampir setiap orang tidak lagi berlaku hingga tahun 1920 an, karena tulisan-tulisan yang sulit dicerna, misalnya tulisan T.S. Eliot, James Joyce atau tulisan Virginia Woolf. Apalagi kelas menengah yang suka membeli buku serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan kesusastraan atau yang getol melihat pementasan-pementasan drama tidak lagi mau membelanjakan uangnya untuk kepentingan di atas, dan kelas buruh yang jumlahnya banyak belum tertarik pada buku atau aktor pentas. Namun rintangan yang paling utama sebenarnya adalah suasana pada saat itu yang membawa masyarakat Inggris kepada suatu masyarakat yang tidak memiliki imajinasi maupun inspirasi.

a.     Prosa
Tidak sebagaimana abad ke-19, bentuk prosa mendapat tempat yang terhormat pada periode modern ini. Beberapa penulis mulai mempelajari teknik penulisan serta bahan cerita. Kita dapat melihat penggunaan teknik "surat" (epistolary technique), teknik otobiografi (autobiography technique) serta teknik "mata Tuhan" (God' eyes). Di samping ketiga teknik tersebut ada penulis yang menggunakan teknik percakapan tanpa unsur naratif. Namun ada beberapa pengarang yang tidak puas dengan teknik-teknik tersebut di atas karena dianggap kurang dekat dengan pembaca. Mereka menciptakan sebuah teknik penulisan yang disebut "arus kesadaran" (stream of consciousness) atau teknik "monolog dalam kesadaran" (interior monologue). Di dalam menulis novel-novelnya seorang pengarang kadang-kadang menggunakan satu teknik, kadang-kadang menggunakan lebih dari satu teknik.

Joseph Conrad (1857-1924), adalah seorang laki-laki kelahiran Polandia yang telah menjadi warga Negara Inggris. Sebagai pelaut, sejak berusia 19 tahun ia telah melanglang buana ke berbagai pelabuhan dan negara-negara di Asia Pasifik dan benua Amerika. Karya-karya novel maupun cerita pendeknya berlatar belakang pengalamannya mengarungi samudera. Novel-novel Conrad biasanya bersifat petualangan. Beberapa karyanya yang patut diketengahkan antara lain  The Nigger of the Narcissus terbit pada tahun1897, kemudian Youth terbit pada tahun 1902 serta Lord Jim terbit pada tahun 1900 yang menceritakan tentang seorang kapten kapal yang meninggalkan kapalnya yang mengalami kecelakaan dan meninggalkan penumpang-penumpang pribumi Asia.
Joseph Conrad.

Beberapa karya Conrad yang dianggap berhasil adalah Heart of Darkness, Nostromo, Typhoon. Meskipun bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu baginya, namun karya-karyanya ditulis dengan bahasa Inggris yang sangat mengagumkan meskipun kadang-kadang kalimat-kalimat yang ditulisnya terkesan panjang dan sulit dimengerti.

Herbert George Wells (1866-1946) suka sekali menampilkan peristiwa-peristiwa fantastis yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan pada periode ini. Sebuah karyanya yang fantastis adalah The Time Machine yang terbit pada tahun 1955, yang mengisahkan manusia yang dapat dipindahkan ke masa lampau atau ke masa depan dengan seketika oleh mesin waktu tersebut. Dalam karyanya yang berjudul The Modern Utopia yang terbit pada tahun 1905, Wells memasukkan gagasan-gagasan sosialisme dan keinginannya akan tatanan dunia yang lebih wajar, beberapa karyanya yang lain adalah The Invisible Man, The War of the Worlds, The First Men in the Moon. Karya-karyanya yang berjudul Ann Veronica mengungkapkan pandangannya tentang emansipasi wanita.
H. G. Wells

Kepincangan-kepincangan yang terjadi di dalam masyarakat khususnya yang berkaitan dengan dunia perdagangan ditulisnya dalam Tono Bungay yang terbit pada tahun 1909. Jika kita bermaksud mengetahui harapan-harapan serta kekecewaan-kekecewaan masyarakat Inggris pada permulaan periode ini, karya-karya Wells banyak memberikan jawaban. Wells telah memperkenalkan bentuk roman ilmiah (scientific romance) dalam khasanah kesusastraan Inggris masa kini.

John Galsworthy (1867-1933), seorang novelis dan dramawan yang menyorotin keg\hidupan kelas atas Inggris dalam novelnya Forsyte Saga (1906-1921), modern komedi yang terdiri dari The White Monkey (1924), The Silver Spoon (1926), The Swan Song (1928). Novel-novel lainnya adalah Jocelyn (1898), The Country House (1907), Fraternity (1909), The Patrician (1911), The Free Land (1915, Maid in Waiting (1931), dan Flowering While Dernes (1932).

Salah satu penganut paham eksperimental yang paling berani adalah David Herbert Lawrence (1885-1930) yang disebut sebagai Rousseau modern. Dalam novel pertamanya, dirinya sendiri muncul yaitu seorang anak laki-laki yang mengidap penyakit paru-paru dan orang tuanya adalah buruh tambang di utara. Dia bergantung pada ibunya tetapi tersiksa oleh keinginannya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Novelnya yang pertama adalah The White Peacock yang terbit pada tahun 1911, kemudian diikuti dengan Sons and Lovers pada tahun 1913 dan The Rainbow pada tahun 1915. Semua karyanya bersifat autobiografi dan menceritakan bahwa dia kemudian akan mengajarkan adanya kekuatan yang sifatnya masih ramalan, bahwa era mesin dan kemampuan intelektual telah memusnahkan akar manusia yang paling dalam, dan satu-satunya jalan untuk mencapai keselamatan adalah dengan mematuhi kuasa gelap, mendengarkan panggilan darah dan melepaskan daya seksual.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Lawrence berkeliling dunia dan menggambarkan pengalamannya tentang latar belakang tempat-tempat yang ia kunjungi. Sebagai contoh, Aaron’s Rod (1922) dibuat di Italia, Kangaroo (1932) dibuat di Australia, dan The Plumed Serpent (1926) dibuat di Mexico. Dia melukiskan pemandangan secara indah dan hidup seperti pada Birds, Beasts and Flowers (1923, 1930) yang merupakan judul dari buku puisinya yang menyenangkan, tetapi seringkali kurang meyakinkan dalam melukiskan karakter manusia. Pandangannya tentang nilai tertinggi atas kepuasan seksual menjadi ciri penting dari karyanya, dan Lady Chatterley’s Lover mengekspresikan secara jelas. (edisi yang telah disensor diterbitkan pada tahun 1928, versi yang lengkap diterbitkan di Paris pada tahun 1929, dan edisi penuh di Inggris pada tahun 1960).
Jika Lawrence menginginkan keselamatan secara jasmani, Aldous Huxley (1894-1963), mula-mula mencarinya melalui pikiran dan diteruskan ke jiwa. Dia adalah seorang intelektual kafir, yang pada akhirnya menjadi penganut ilmu kebatinan. Novelnya yang pertama Crome Yellow (1921), sebuah satire sosial yang memikat dengan memakai gaya teman lama Shelley yaitu Thomas Love Peacock (1785-1866) adalah tulisannya yang paling baik dan tidak diragukan lagi merupakan bukunya yang paling menghibur. Those Barren Leaves (1925) dan Point Counter Point (1928) lebih ambisius tetapi bentuknya kurang bagus. Brave New World (1932) adalah sekilas ramalan tentang masa depan totaliter yang mengerikan; dan di dalam novel terakhirnya menonjolkan kecenderungan mistik. Dia menjadi asyik dengan penebusan umat manusia dan percaya bahwa cahaya dapat diterima melalui penggunaan obat-obatan secara bebas.



James Joyce (1882-1941), orang Irlandia setelah menerbitkan sebuah edisi cerita pendek, Dubliners (1914) dan sebuah novel autobiografi, A Portrait of the Artist as a Young Man (1916), pada tahun 1922 mempersembahkan narasinya yang revolusioner yaitu Ulysses. Penemuannya itu menghasilkan varian modern dari Odyssey, halamannya yang berjumlah 800 lembar menceritakan tentang petualangan selama sehari hidup seorang pengusaha kecil bangsa Yahudi, Leopold Bloom, saat dia mengembara di Dublin. Bloom memanfaatkan parodi dari Odyssey tetapi secara keji dan jorok. Sebelumnya karakter Bloom sendiri adalah simpatik; dan latar belakangnya jalan raya Dublin yang sibuk digambarkan oleh Joyce sebagai paduan dari cinta dan kebencian. Penggunaan kata-katanya sungguh mengagumkan; dan dapat dikatakan dia hampir selalu menemukan istilah-istilah sastra yang baru.

Yang paling efektif adalah pemakaian “interior monologue” untuk menggambarkan alur yang berliku-liku dari pikiran Bloom, yaitu ingatannya akan masa lalu dan harapannya akan kebahagiaannya di masa depan. Joyce menulis setiap babnya dengan gaya yang berbeda, menggunakan bahasa dari golongan cendekiawan, pengacara, pejuang, pengusaha, penjagal, dan pelacur. Selain meniru struktur Odyssey, kadang-kadang dia juga memparodikan karya-karya Inggris klasik. Buku terakhirnya, Finnegans Wake (1939), walaupun berisi tulisan evokatif yang sangat bagus, tidak dapat mencapai tujuannya. Eksperimennya dengan bahasa sangat berani sehingga membuat pembacanya kagum.
Novelis lain yang menggunakan Interior Monologue adalah Virginia Woolf  (1882-1941). Novelnya yang pertama, The Voyage Out (1915) menceritakan tentang kisah yang terus terang, tetapi saat dia membuat Mrs. Dalloway (1925) dan To the Lighthouse (1927), yang dianggap sebagai buku terbaiknya, dia mulai menggunakan teknik yang baru sama sekali, gabungan antara kesan-kesan yang hidup walaupun tidak berhubungan dengan catatan pikiran serta perasaan yang terlintas dalam benaknya. Keindahan novelnya tidak hanya terletak pada ceritanya tetapi juga pada tekstur tulisannya.

Sebagai novelis, Arnold Bennet (1867-1931) dianggap dekat dengan gaya realis, dengan golongan bawah sebagai bahan cerita, khusunya mereka yang hidup di kota-kota yang berdekatan dengan industri keramik di Inggris utara. Ia selalu menulis tentang kondisi yang selalu berlawanan; kondisi yang mengacu kepada realisme dan kondisi yang mengacu pada romantisme. Ini terlihat pada karyanya yang berjudul The Old Wive's Tale, juga dalam triloginya Clayhanger, Hilda Lessways serta These Twain. Ciri khasnya yang menonjol sebagai seorang novelis adalah regionalisme dan naturalisme yang dipengaruhi oleh penulis Perancis Zola dan Maupassant.
Arnold Bennett, British novelist

Seorang realis lainnya yang hidup pada masa ini adalah William Somerset Maugham (1874-1965), kehidupan W. Somerset pada awalnya tidak bahagia. Dia lahir di Perancis, tetapi orang tuanya adalah orang Inggris dan keduanya telah meninggal ketika dia masih kecil. Oleh karena itu dia pergi ke Inggris dan tinggal bersama pamannya yang suasananya dingin dan keras. Seting ini muncul dalam novelnya yang berjudul Cakes and Ale (1930), dimana dia menggambarkan seorang anak laki-laki seperti dirinya: pemalu, ragu-ragu, gagap, tetapi juga imajinatif dan responsif. Maugham menempuh studinya di sekolah Inggris dan di Universitas Heidelberg. Dia ingin menjadi penulis, tetapi atas desakan pamannya ia kemudian belajar ilmu kedokteran.
W. Somerset Maugham as photographed in 1934 by Carl Van Vechten.

Setelah menjalani masa belajar selama setahun di daerah kumuh Lambeth di London, Maugham terkena serangan TBC, kemudian segera pergi untuk melakukan perjalanan keliling dunia, dimana dia mulai menulis. Dia bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi keberhasilan tidak dapat diraih dengan mudah. Dalam novelnya yang paling terkenal, Of Human Bondag (1915), dia bercerita tentang pindahnya seorang mahasiswa kedokteran yang masih muda seperti dirinya sendiri. Novel-novel lainnya The Hero (1901), The Moon and Sixs Pence (1919), The Painted Veile (1925), The Casuarine Tree (1926). Sedangkan kumpulan cerpennya: The Tranmblinf of a Leaf (1921), The Mixcure as Before (1940). Somerset Maugham mungkin menjadi pendongeng yang paling ulung pada saat itu. Dia telah banyak melakukan perjalanan keliling dunia dan mengumpulkan banyak kisah selama perjalanannya. Dia menulis cerita novelnya dan drama dengan kejadian yang aneh, karakter yang ganjil, seiring dengan setting yang exotik. Mungkin salah satu rahasia kepopulerannya terletak dalam tujuan yang dikatakannya dalam menulis yaitu hiburan. Dia mengatakan kesenangan, didalamnya sendiri adalah baik. Namun dia tidak pernah menulis yang sifatnya menyenangkan atau cantik. Walaupun dia tidak membela orang miskin, dia menggambarkan golongan atas dengan sebuah ironi yang seringkali menyakitkan.

George Orwell (1903-1950), adalah nama pena dari Eric Blair, seorang novelis, jurnalis dan kritikus yang dilahirkan dalam sebuah keluarga kelas menengah yang miskin dan belajar di Eton. Pada tahun 1922 sampai 1927 dia menjadi polisi Burma tetapi kemudian mengundurkan diri karena tidak suka pada apa yang dia namakan sebagai penindasan yang emperialis yang dia tampilkan dalam novelnya Burmese Days (1934). Perasaan bersalahnya secara sosial dituangkannya dalam Down and Out in Paris and London (1933). Pada puncak depresi ekonomi tahun 1930-an dia membuat penelitian pribadi tentang keadaan di Inggris di bagian utara yang dia lukiskan ke dalam novel The Road to Wigan (1937).

Pengalaman bertempurnya di Spanyol dia tuliskan dalam Homage to Catalonia (1938). Dia menganggap dirinya seorang sosialis demokratis yang bebas. Selama Perang Dunia II dia ditolak menjadi tentara karena alasan kesehatan, dan kemudian bekerja di BBC India. Pada tahun 1945, dia menerbitkan mahakaryanya, sebuah fable satire politik terhadap Stainlisme yang berjudul Animal Farm. Setelah perang dia menulis karya yang sangat terkenal (1949), yang bercerita tentang fisi sebuah dunia yang diatur oleh kediktatoran gaya Stali yang dikontraskan dengan kehidupan dan pemikiran pribadi, propaganda, dan manipulasi bahasa. Novel-novelnya yang lain adalah A Clergyman's Daughter (1935), Keep the Aspidrisa Flying (1936), dan Coming Up for Air (1939). Sedangkan karya terbesarnya di bidang kritik sastra dan sosial adalah Inside the Whle (1940), The Lion and the Unicorn (1941), Critical Essays (1946), dan Shooting an Elephant (1950).

b.    Puisi

Tidak seperti abad sebelumnya, puisi pada periode ini tidak berada di tempat teratas dari khasanah kesusastraan Inggris. Para penyair pada periode ini terbagi menjadi dua golongan, yaitu mereka yang masih menggunakan standar-standar kreativitas dalam berkarya seperti penyair Robert Bridges (1844-1930). Bridges masih menggunakan standar kreativitas lama serta menolak adanya pembaharuan. Dia menganggap bahwa puisi adalah sesuatu yang harus dipelajari. Karyanya yang tersohor adalah “The Testament of Beauty” yang terbit pada tahun 1929. Pada  karyanya ini, Bridges menuliskan tentang filsafat hidupnya.
Salah satu yang mencolok pada perkembangan puisi modern adalah adanya kecenderungan untuk meninggalkan tema serta bentuk tradisional dan mengadakan beberapa eksperimen. Salah satu eksperimen yang kita kenal adalah “Imagism”. Gerakan imagism ini dipelopori oleh penyair-penyair Amerika seperti Ezra Pound, Amy Lowell dan Hilda Dolittle, dan seorang penyair Inggris Richard Aldington. Bagi gerakan imagism, puisi adalah penyajian situasi visual dengan menggunakan sedikit mungkin kata-kata yang konkret serta bebas dari isian moral dan filsafat. Meskipun gerakan imagism berangsur-angsur ditinggalkan pengikutnya, namun gerakan ini telah berjasa besar terhadap perkembangan puisi modern. Keadaan ini dituliskan dalam puisi Aldington (1892-1962) yang berjudul “Images of War” terbit pada tahun 1919 serta “Medallions in Clay” pada tahun 1912. dua kumpulan puisi tersebut mengemukakan beberapa kelebihan serta kekurangan “imagism”. Sebuah karyanya yang lain yang berjudul “A Fool in the Forest” terbit pada tahun 1925, lebih banyak mengisahkan tentang sirnanya imajinasi serta intelektualitas akibat perang.


Reputasi Alfred Edward Housman (1859-1936) sebagai seorang penyair terletak pada kualitas yang tinggi dari beberapa puisi. Pada tahun 1896 dia menerbitkan “A Shropshire Lad”, yang terdiri dari enam puluh tiga lirik yang sederhana. Isinya bercerita tentang meditasi yang dilakukan oleh seorang pemuda, kebanyakan diwarnai dengan nada prihatin, ejekan atau pesimis, tetapi yang lain berisi tentang kegembiraan seorang anak petani di desa selama musim semi. Hal yang khusus adalah rasa dari puisi-puisinya yang membuatnya tiba-tiba diangkat menjadi pemimpin diantara penyair-penyair baru abad ke-20.
portrait photo

Dia tidak menerbitkan karyanya lagi selama dua puluh enam tahun. Kemudian sebuah edisi yang lebih kecil muncul yaitu “Last Poems”. Edisi ketiga, “More Poems”, diterbitkan oleh saudaranya Laurence setelah penyairnya meninggal. Dia adalah seorang sarjana yang terkenal. Setelah meninggalkan Oxford, bekerja selama sepuluh tahun di perusahaan Inggris yang paten, sebuah pekerjaan yang ditinggalkannya untuk menjadi seorang professor bahasa Latin, pertama-tama di Universitas London dan kemudian di Cambridge. Lirik yang dibuatnya sederhana, indah dan sangat halus bahasanya membawa pengaruh dalam studi klasik.

Karya sastra yang total dari William Butler Yeats (1865-1939) adalah hebat. Sebagian berhubungan dengan semangat patriotik serta puitik, karena Yeats mengambil bagian secara aktif dalam Renaissance Celtic (Kelahiran kembali Celtic), dan dia adalah seorang senator dari negara bagian Irlandia yang baru saja berdiri. Kebanyakan puisinya diilhami oleh kedua hal tersebut. Lahir di Dublin dan menempuh pendidikan di London, pada awalnya dia tinggal bersama kakek dan neneknya di kota Sligo. Disini di menjadi akrab dengan cerita rakyat Irlandia yang pengaruhnya sangat besar dalam kehidupannya.
A 1907 engraving of Yeats.

Yeats sebagai salah seorang pendiri teater nasional Irlandia yaitu teater di Dublin, minat khusus Yeats adalah drama puitik. Ketika teater tersebut mulai memproduksi drama prosa realistic, Yeats membuktikan bahwa dia dapat menulis secara efektif keduanya. “The Land of Heart’s Desire” adalah contoh dramanya yang penuh dengansyair simbolik. “The Pot of Broth” adalah drama berbentuk prosa yang sukses. Yeats juga seorang penulis essay dan kritik. Dia sangat terkenal walaupun pada awalnya liriknya penuh dengan metaphor dan symbol. Pada tahun 1923 dia menerima hadiah nobel untuk kesusastraan karena “puisi emosionalnya yang konsisten, dalam bentuk artistik yang paling kaku, mencerminkan semangat manusia”.

Karier Thomas Stearns Eliot (1888-1965) dalam bidang sastra adalah sebuah contoh yang menandai berubahnya pemikiran manusia yang dapat dilakukan denga bertukar pengalaman hidup. Dia berasal dari St. Louis, Missouri. Setelah lulus dari Universitas Harvard tahun 1910, dia meneruskan di Sorbonne Paris dan kemudian belajar filsafat Yunani di Oxford sebagia seorang sarjana Rhodes. Cara hidup orang Inggris sangat menarik baginya sehingga dia terus tinggal di sana.
Pada awalnya puisi Eliot menentang keceriaan, kehalusan dan kejelsan puisi-puisi sebelumnya. Dia menulis puisi yang keras dan rapuh. Dalam pola, puisi ini berisi kiasan klasik yang berliku-liku, jenaka, simbolnya tidak jelas, dan frasenya samar.
T.S. Eliot (by E.O. Hoppe, 1919)

Dalam suasana hati, menyampaikan pesan bahwa hidup ini sia-sia. Contohnya dalam puisinya yang paling terkenal – The Waste Land dan The Hollow Men.  Tetapi dalam puisi selanjutnya yang panjang yaitu Ash Wednesday (1930), menunjukkan perubahan sikap Eliot. Keputusasaan berangsur-angsur digantikan oleh salah satu kepercayaan keagamaan. Mulai saat itu karya Eliot mengambil nada yang lebih berpengharapan.
Dengan dua lakonnya, Murder in the Cathedral (1935) dan The Family Reunion (1939), Eliot membangkitkan lagi tradisi puitik di teater. Dalam tahun-tahun terakhir dia menghasilkan karya-karya lain yang sukses yaitu The Cocktail Party (1950), The Confidental Clerk (1953), dan The Elder Statesman (1959). Dialog dalam lakonnya berirama bebas seperti Beowulf.  Semua tulisannya- drama, puisi, prosa – mempunyai makna yang digarisbawahi yang tidak kentara yang tidak akan tampak jika hanya dibaca sepintas. Eliot dianggap sebagai penyair yang paling terkenal, salah satu yang paling controversial, dan mungkin yang paling berpengaruh di abad ke-20.

c.      Drama

Pada periode ini drama mengalami perkembangan pesat. Mulai timbul kembali kegairahan menulis drama di antara para sastrawan. Tokoh yang paling dikenal pada masa ini adalah George Bernard Shaw (1856-1950). Ia kelahiran Irlandia, namun sejak usia muda telah menetap di London. Sejarah kariernya sebagai dramawan adalah yang terpanjang di antara para penulis drama di Inggris lainnya. Ia memulai kariernya sebagai penulis kritik dan banyak dipengaruhi oleh dramawan Norwegia bernama Henrik Ibsen, sehingga sebagaimana Ibsen, karya-karya Shaw banyak bermuatan kritik sosial.
George Bernard Shaw

Oleh sebab itu Shaw menjadi anggota “Fabian Society” yang mempunyai tujuan mewujudkan sosialisme dengan cara-cara demokratis. Selama tahun 80 dan 90-an, Shaw menjadi seorang wartawan, menulis kritik-kritik tentang musik, buku dan tentang seni untuk beberapa koran. Dari sinilah ia mulai merasakan betapa leluasanya ia mengungkapkan idenya kepada khalayak ramai. Karena ia kemudian melihat betapa miskinnya khasanah drama Inggris yang berkualitas, ia kemudian menulis dramanya sendiri. Ellen Terry, seorang aktris romantik yang terkemuka pada saat itu banyak memberikan inspirasi kepada karya-karya Shaw, dan ia pun kemudian menjadi teman akrab Shaw.
Di samping kemampuan literernya, Shaw dikenal pula karena sifat-sifat pribadinya yang aneh. Pikirannya yang aktif selalu dipenuhi dengan gagasan-gagasan: ia tidak setuju dengan pengucapan bahasa Inggris yang baku, misalnya. Pada tahun1925, karena prestasinya yang luar biasa, ia mendapat hadiah nobel untuk kesusastraan. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Pygmalion yang ditulisnya pada tahun 1912. Judul cerita ini berasal dari sebuah mitos Yunani yang mengisahkan seorang pemahat yang bernama Pygmalion memahat seorang wanita dan kemudian ia jatuh cinta pada pahatannya tersebut. Kemudian dewa Aphrodite yang mirip dengan patung tersebut menjadikannya benar-benar hidup seperti manusia layaknya. Tokoh Pygmalion dalam drama Shaw adalah Prof. Higgins, seorang ahli fonetik yang memiliki hobby mempelajari berbagai dialek. Higgins berhasil mengangkat seorang wanita jalanan yang buta huruf menjadi seorang “lady” yang bisa diterima oleh kalangan atas. Drama Pygmalion ini sebenarnya adalah sebuah satire sosial yang dikemas secara halus. Beberapa karya Shaw yang lain adalah Arms and the Man yang merupakan sebuah satire terhadap pendewaan kehebatan militer. Kemudian Man and Superman yang terbit pada tahun 1905 yang melukiskan wanita sebagai perwujudan kehendak alam untuk kelangsungan keturunan. Pada tahun 1906 terbit The Doctor’s Dilemma, sebuah kritik terhadap dunia kedokteran. Drama-dramanya yang lain di antaranya Getting Married sebuah satire kehidupan seks, Androcles and the Lion dan karyanya yang terakhir adalah Bouyant Billions yang terbit pada tahun 1949.
Di samping Shaw ada beberapa penulis drama lain, yang sekaligus juga penulis novel, yaitu John Galsworthy, yang juga menulis tentang masalah-masalah sosial yang muncul pada masa ini. Beberapa karyanya antara lain The Silver Box (1906), Joy (1907), Strife (1909), Justice (1910), The Pigeon (1912), The Eldest Son (1912), The Fugitive (1913), The Skin Game (1920), Loyalties (1922), The Forest (1924) dan sebuah drama yang disiarkan oleh TV dan radio yang berjudul The Forstyle Saga (1967). Di samping Galsworthy, ada seorang penulis drama liris yaitu W.H. Auden yang lahir pada tahun 1907. Bersama-sama dengan Christopher Isherwood yang lahir pada tahun 1904, Auden menulis The Ascent of F6 (1936), On The Frontier (1938), The Dog beneath the Skin (1935). William Somerset Maugham juga menulis beberapa drama yang sukses tetapi sekarang kurang diminati adalah Our Betters (1917), Kaisar's Wife (1919), East of Suez (1922), The Constant Wife (1926), The Letter (1927), The Bread Winner (1920), dan Sheppey (1933).










3.     Pengenalan Apresiasi Karya Sastra Inggris Periode Modern

Pada bagian 3 ini, Anda dapat mengenal dan mengapresiasi karya sastra Inggris pada periode Modern dalam genre puisi, prosa, dan drama. Disamping itu diberikan pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan pada periode ini.
Mengapresiasi karya sastra Inggris periode Modern sangat penting untuk memperdalam pemahaman terhadap karya-karya sastra Inggris baik yang berbentuk puisi, prosa maupun drama dalam periode ini. Anda diharapkan mampu menjelaskan dan mengapresiasi karya sastra Inggris periode Modern.

Sebagai bahan apresiasi karya sastra Inggris Modern, Anda akan mempelajari sebuah cerpen karya Joseph Conrad, puisi karya T.S. Eliot, dan cuplikan drama karya George Bernard Shaw.

a.     Prosa 
Berikut ini adalah contoh cerita pendek yang berjudul “The Lagoon” karya Joseph Conrad. Anda pelajari dengan saksama cerpen berikut.

The Lagoon
         Joseph Conrad

THE WHITE MAN, learning with both arms over the roof of the little house in the stern of the boat, said to the steersman:
“We will pass the night in Arsat’s clearing. It is late.”
The Malay only grunted and went on looking fixedly at the river. The white man rested his chin on his crossed arms and gazed at the wake of the boat. At the end of the straight venue of forests cut by the intense like a band of metal. The forests, sombre and dull, stood motionless and silent on each side of the broad stream. At the foot of big, towering trees, trunkless nipa palms rose from the mud of the bank, in bunches of leaves enormous and heavy, that hung unstirring over the brown swirl of eddres. In the stillness of the air every tree, every leaf, every bough, every tendril of creeper and every petal of minute blossoms seemed to have been bewitched into an immobility perfect and final. Nothing moved on the river but me eight paddles that rose flashing regularly, dipped together with a single splash, white the steersman swept right and let with a periodic and sudden clongish of his blade describing a glinting semicircle above his head. The churned-up water frothed alongside with a confused murmur. And the white man’s canoe, advancing upstream in the short-lived disturbance of its own making, seemed to enter the portals of a land from which the very memory of motion had forever departed.
The white man, turning his back upon he saving sun, looked along the empty and broad expanse of the sea reach. For the last three miles of its course the wandering, hesitating river, as if enticed irresistibly by the freedom of an open horizon, flows straight into the sea, flows straight to the east – to the east that harbors both light and darkness. A stern of the boat the repeated call of some bird, a cry discourdant and feeble, skipped along over the smooth water and lost itself, before it could reach the other shore, in the breathless silence of the world.
The steersman dug his paddle into the stream, and held hard with stiflened arms, his body thrown forward. The want gurgled aloud; and suddenly the long straight teach seemed to pivot on its center, the forests swung in a semicircle, and the slanting beams of sunset bouched the broadside of the canoe with fiery glow, throwing the slender and astorted shadows of its crew upon the streaked glitter of the river. The white man turned to look ahead. The course of the boat had been altered at right angles to the stream, and the carved dragonhead on its prow was pointing now at a gap in the fringing bushes of the bank. It glided through, brushing the overhanging twigs, and disappeared from the river like some slim and amphibious creature leaving the water for its lair in the forests.
The narrow creek was like a ditch: tortuous, fabulously deep; filled with gloom under the thin strip of pure and shining blue of the heaven. Immense trees soared up, invisible behind the festooned draperies of creepers. Here and there, near the glistening blackness of the water, a twisted root of some tall tree showed among the tracery of small ferns, black and dull, writhing and motionless, like an arrested snake. The short words of the paddlers reverberated loudly between the thick and sombre walls of vegetation. Darkness owed out from between the trees, through the tangled maze of the creepers, from behind the great fantastic and unstirring leaves; the darkness, mysterious and invincible; the darkness scented and poisonous of impenetrable forests.
The men poled in the shoaling water. The break broadened, opening out into a wide sweep of a stagnant lagoon. The forests receded from the marshy bank, leaving a level strip of bright green, reedy grass to frame the reflected blueness of the sky. A fleecy pink cloud drifted high above, trailing the delicate coloring of its image under the floating leaves and the silvery blossoms of the lotus. A little house, perched on high piles, appeared black in the distance. Near it, two tall nibong palms, that seemed to have come tenderness and care in the droop of their leafy and soaring heads.
The steersman, pointing with his paddle, said, “Arsat is there. I see his canoe fast between the piles.”

Cerita pendek dengan judul “The Lagoon” di atas mengisahkan tentang kematian istri Arsat, seorang laki-laki Melayu serta peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan tentang kematian tersebut. Namun jika Anda mau menelusurinya lebih dalam, Anda akan sampai pada suatu pertanyaan apa yang ada di balik cerita yang berlatar belakang laut tersebut. Konflik-konflik apakah yang harus dihadapi oleh Arsat, mengapa Arsat gagal menemukan kedamaian meskipun ia tahu bahwa kedamaian itu sebenarnya ada dalam diri masing-masing orang?  Cerita ini adalah sebuah cerita tragedi.











b.     Puisi

Berikut ini adalah contoh puisi yang berjudul “The Hollow Men” karya T.S Eliot. Anda pelajari puisi Eliot tersebut dengan saksama.

The Hollow Men
T.S. Eliot

Mistah Kurtz – he dead
A penny for the Old Guy

                 I
We are the stuffied men
We are the hollow men
Leaning together
Headpiece filled with straw. Alas!
Our dried voices, when
We whisper together
Are quiet and meaningless
As wind in dry grass
Or rats feet over broken glass
In our dry cellar

Shape without form, shade without color
Paralyzed force, gesture without motion
Those who have crossed
With direct eyes, to death’sother Kingdom?
Remember us – if at all – not as lost
Violent souls, but only
As the hollow men
The stufled men
Not that final meeting
In the twilight kingdom
            III
This is the dead land
This is cactus land
Here the stone images
Are raised, here they receive
The supplication of a dead man’s hand
Under the twinkle of a fading star

Is it like this
In death’s other kingdom
Walking alone
At the hour when we are
Trembling with tenderness
Lips that would kiss
Form prayers to broken stone

            IV
The eyes are not here
There are no eyes here
In this valley of dying stars
In this hollow valley
This broken jaw of our lost kingdoms

In this last of meeting places
We grope together
And avoid speech
Gathered on this beach of the tumid river
Sightless, unless
The eyes reappear
                     II
Eyes I dare not meet in dreams
In death’s dream kingdom
These do not appear
There, the eyes are
Sunlight on a broken column
There, is a tree swinging
And voices are
In the wind’s singing
More distant and more solemn
Than a fading star

Let me be no nearer
In death’s dream kingdom
Let me also wear
Such deliberate disguises
Rat’s coat, crowskin, crossed staves
In a field
Behaving as the wind behaves
No nearer


As the perpetual star
Multifoliate rose
Of death’s twilight kingdom
The hope only
Of empty men

             V
Here we go round the prickly pear
Prickly pear prickly pear
Here we go round the prickly pear
At five o’clock in the morning

Between the idea
And the reality
Between the motion
And the act
Falls the shadow
               For Thine is the Kingdom
Between the conception
And the creation
Between the emotion
And the response
Falls the shadow
Between the desire
And the spasm
Between the potency
And the existence
Between the essence
And the descent

Dalam sajaknya yang berjudul “The Hollow Men”, T.S. Eliot mencoba mengemukakan tentang peradaban modern: manusia modern dipenuhi dengan ide-ide, opini-opini serta kepercayaan yang mereka sendiri tidak dapat merasakannya. Tujuan utama Eliot dalam puisi ini sebenarnya menciptakan suasana frustasi, kekosongan serta kesedihan seperti diungkapkan dalam kalimatnya “rats feet over broken glass” (baris ke-9), juga dalam kalimat “the cactus land” (baris ke-40). Pada bagian ke-5 dari sajak ini, T.S. Elliot dengan rima yang kekanak-kanakan berusaha mengungkapkan tidak adanya tujuan yang pasti kehidupan manusia modern: impoten, tak berdaya, dan akhirnya berakhir dengan “whimper”.


c.      Drama

Berikut ini adalah contoh cuplikan drama yang berjudul Pygmalion hasil karya George Bernard Shaw.


Pygmalion
George Bernard Shaw

ACT 1

Covent Garden at 11:15 p.m.  Torrents of heavy summer rain. Cab whistles blowing frantically in all directions. Pedestrians running for shelter into the market and under the portico of St. Paul’s Church, where there are already several people, among them a lady and her daughter in evening dress. They are all peering out gloomily at the rain except one man with his back turned to the rest, who seems wholly preoccupied with a notebook in which he is writing busily.
The church clock strikes the first quarter.
THE DAUGHTER (in the space between the central pillars, close to the one of her left). I’m getting childed to the bone. What can Freddy be doing all this time? He’s been gone twenty minutes.
THE MOTHER (on her daughter’s right). He won’t get no cab not until her- past eleven, missus, when they come back after dropping their theater fares.
THE MOTHER. But we must have a cab. We can’t stand here until half-past eleven. It’s too bad.
THE BYSTANDER. Well, it ain’t my fault, missus.
THE DAUGHTER. If Freddy had a bit of gumption, he would have got one at the theater door.
THE MOTHER. What could he have done, poor boy?
THE DAUGHTER. Other people got cabs. Why couldn’t he?
(Freddy rushes in out of the rain from the Southampton Street side, and comes between them closing a dripping umbrella. He is a young man of twenty, in evening dress, very wet round the ankles).
THE DAUGHTER. Well, haven’t you got a cab?
FREDDY. There’s not one to be had for love or money.
THE MOTHER. Oh, Freddy, there must be one. You can’t have tried.
THE DAUGHTER. It’s too tiresome. Doyou expect us to go and get one ourselves?
FREDDY. I tell you they’re all engaged. The rain was so sudden nobody was prepared, and everybody had to take a cab. I’ve been to Charing Cross one way and nearly to Ludgate Circus the other; and they we’re all engaged.
THE MOTHER. Did you try Trafalgar Square?
THE DAUGHTER. Did you try?
FREDDY. I tried as far as Charing Cross Station. Did you expect me to walk to Hammersmith?
THE DAUGHTER. You haven’t tried at all.
THE MOTHER. You really are very helpless, Freddy. Go again; and don’t come back until you have found a cab.
FREDDY. I shall simply get soaked for nothing.
THE DAUGHTER. And what about us? Are we to stay here all night in this draught, with next to nothing on? You selfish pig.
FREDDY. Oh, very well! I’ll go, I’ll go.
(He opens his umbrella and dashes off Strandwards, but comes into collision with a flower girl, who is hurrying in for shelter, knocking her basket out of her hands. A blinding flash of lightning, followed instantly by a ratting peal of thunder, orchestrates the incident).
THE FLOWER GIRL. Nah then, Freedy, look why ‘y’ growing, deah.
FREDDY. Sorry (He rushes off)
THE FLOWER GIRL (picking up her scattered flowers and replacing them in the basket). There’s menners f’ yer! Te-oo banches o’voylets trod into the mad. (She sits down on the plinth of the column, sorting her flowers, on the lady’s right. She is not at all an attractive person. She is perhaps eighteen, perhaps twenty, hardly older. She wears a little sailor hat of black straw that has long been exposed to the dust and soot London and has seldom if ever been brushed. Her hair needs washing rather badly: its mousy color can hardly be natural. She wears a shoddy black coat that reaches nearly to her knees and is shaped to her waist. She has a brown skirt with a coarse apron. Her boots are much the worse for wear. She is no doubt as clean as she can afford to be; but compared to the ladies she is very dirty. Her features are no worse that theirs; but their condition leaves something to be desired; and she needs the services of a dentist).
THE MOTHER. How do you know that my son’s name is Freddy, pray?
THE FLOWER GIRL. Ow, cez-ye-ooa san, is e? Wat, fewd and y’ de-ooty bawmz a mather should, eed now bettern to spawl a pore gel’s flahrzn than ran away athaht pyin. Will ye-oo py me f’ them?
(Here, with apologies, this desperate attempt to represent her dialect without a phoetic alphabet must be abandoned as unintelligible outside London).
THE DAUGHTER. Do nothing of the sort, Mother. The idea!
THE MOTHER. Please allow me, Clara. Have you any pennies?
THE DAUGHTER. No, I’ve nothing smaller than sixpence.
THE FLOWER GIRL (hoperfully). I can give you change a tanner, kind lady.



          Glosarium


Alinasi. Perasaan-perasaan keterasingan dan keterpinggiran yang ditampilkan dengan menggunakan latar fisik yang berbeda atau bentuk artistik untuk memberikan kejelasan dan kemapanan pandangan-pandangan mereka tentang perbedaan dan keunikan individual.
Autobiography technique. Teknik penulisan novel yang berbentuk cerita diri. (teknik autobiografi).
British Commonwealth. Dalam paruh abad ini terjadi perubahan dalam tatanan kenegaraan Inggris. British Empire berubah menjadi British Commonwealth. Perubahan ini bukanlah sekedar perubahan nama. Irlandia, kecuali Ulster, menyatakan kemerdekaannya sebagai negara Republik Irlandia pada tahun 1921. India dan Pakistan, meskipun masih menjadi negara commonwealth merdeka pada tahun 1947. Ide dibalik "British Commonwealth" ini telah memberikan inspirasi pada konstitusi Amerika. Hubungan Inggris dengan negara-negara commonwealthnya serta dominionnya saat ini lebih bersifat "sentimental" daripada "finansial".
Chicago Renaissance. Gerakan yang menantang kemapanan sastra Pantai Timur Amerika serta menunjukkan kematangan bagian dalam Amerika. Tiga penyair Midwest yang aktif dalam gerakan itu adalah Carl Sandburg, Vachel Lindsay, dan Edgar Lee Masters yang mengembangkan teknik realisme dalam puisi.
Eksperimentalisme. Prinsip percobaan yang dipertahankan secara ketat dalam pandangan kebanyakan kaum modernisme.
Epistolary technique. Teknik penulisan novel yang berbentuk surat (teknik surat).
Fugitive Agrarian Movement. Gerakan kesadaran diri modern dari tahun1920-1930 di selatan memunculkan semacam kontradiksi dalam modernisme menjadi sebuah mesin kreativitas.
God'eyes technique. Teknik penulisan novel dengan menggunakan sudut pandang mahatahu (teknik mata Tuhan).
Harlem Renaissance. Gerakan kelahiran kembali kaum kulit hitam pada tahun 1920-an dalam kehidupan budaya dan lingkaran sastrawan "New Negro" seperti Countee Cullen, Arna Bontemps, Wallace Thurman, Zora Neale Hurston, Eric Walrond dan lain-lain.
Modernisme. Gerakan kesenian dimana kesadaran diri seniman mengenai pertanyaan tentang bentuk dan struktur diutamakan. Secara ringkas modernisme menuntut pertimbangan kembali pemahaman tentang pusat dan pinggiran. Salah satu kesepakatan tentang modernisme adalah sebuah gerakan budaya atau sebuah gaya suatu peiode yang dominan dalam seni-seni secara internasional antara tahun-tahun pertama abad 20. Gaya-gaya penulisan baru direprentasikan untuk menemukan gagasan dan tradisi baru.
National Association for the Advancement of Color People. Didirikan oleh Du Bois,  editor pada jurnal Crisis yang banyak menerbitkan karya-karya para penulis penting dari gerakan kelahiran kembali Harlem. Para seniman kulit hitam mempertanyakan tentang keadilan sosial dan bentuk estetik dalam cara-cara tertentu.
Naturalisme. Ciri khasnya yang menonjol yang dipengaruhi oleh penulis Perancis Zola dan Maupassant.
New Criticism. Aliran kritik sastra baru di Amerika yang populer pada akhir tahun 1930-an.
New Negro Movement. Gerakan Negro Baru yang memiliki hubungan yang rumit antara gerakan modernisme dengan kelahiran kembali Harlem. Pada periode ini banyak karya sastra baik dalam bentuk puisi, prosa, drama dan esai dihasilkan oleh sekelompok penulis Afrika-Amerika yang berbakat seperti Jean Toorman yang terkenal sampai keluar Harlem melalui kemunculannya dalam penerbitan-penerbitan kulit putih yang terkemuka.
Regionalisme. Aliran yang dianut oleh para seperti Fitzgerald yang mengangkat kehidupan di daerah pinggiran dan secara serentak menumbuhkan warna lokal.
Scientific romance. Bentuk roman ilmiah atau sains fiksi yang digunakan oleh Wells dan diperkenalkan dalam khasanah kesusastraan Inggris masa kini.
Stream of consciousness. Sebuah teknik penulisan yang disebut "arus kesadaran" atau teknik "monolog dalam kesadaran" (interior monologue).
The Lost Generation. Istilah yang diberikan oleh Gertrude Stein (1874-1946) kepada Lewis dan Anderson yang tidak memainkan peran aktif dalam Perang Dunia I. Generasi muda yang mengalami perang parit, mempunyai pandangan yang lebih pesimis dan menggunakan teknik sastra yang berbeda.




Referensi

Suharno, dkk. (2007) Introduction to English Literature. Jakarta: Universitas Terbuka.



SEBUAH PAGI DAN ANAK BURUNG YANG MALANG

          Angin pagi adalah tangan yang tak kasat mata, yang berembus melalui pepohonan tua di halaman rumah, daun-daunnya gemerisik menggig...