Sesi 7
Periode Inggris Modern
Nama Mata Kuliah : Introduction
to English Literature
Kode Mata Kuliah : PBIS 4223
Penulis : Darminah
Pada sesi 7 ini Anda akan
mempelajari periode Inggris Modern yang berlangsung mulai tahun 1900 sampai
dengan tahun 1950. Materi sesi 7
diambil dari Modul 6 mata kuliah Introduction
to English Literature. Inisiasi yang ke 7 ini
akan mengantarkan Anda dalam memahami latar belakang sosial masyarakat periode Inggris Modern, ciri-ciri karya sastra, beberapa pengarang dan
karya-karyanya, serta beberapa contoh karya sastra baik prosa, puisi maupun
drama yang dihasilkan pada periode tersebut.
Latar belakang sosial
masyarakat Inggris periode Modern mempunyai pengaruh penting dalam perkembangan
kesusastraan Inggris pada periode Inggris Modern. Pengaruh tersebut memberikan ciri khas modernisme dalam
karya sastra Inggris.
1.
latar belakang masyarakat
Inggris periode Modern
2.
ciri-ciri karya sastra
Inggris periode Modern
3.
karya sastra Inggris
periode Modern
1. Latar Belakang Sosial
Masyarakat Inggris Periode Modern
Pada pembahasan yang pertama ini, Anda akan mempelajari latar belakang
sosial masyarakat Inggris periode Modern (1900-1950), ciri-ciri karya sastra
pada periode ini, beberapa pengarang dan karya-karyanya. Disamping itu
diberikan pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan
pada periode ini.
a. Beberapa problema sosial
periode Modern
Kemajuan pesat yang
dicapai di bidang ilmu dan teknologi di zaman Modern ini telah membawa manusia
pada suatu kehidupan yang serba kecukupan di bidang sandang, pangan, dan papan khususnya di
Eropa Barat dan Amerika Utara. Jumlah penduduk berkembang pesat karena
pelayanan kesehatan yang jauh lebih baik daripada periode sebelumnya. Namun di
balik semua keberhasilan itu, periode ini dianggap pula sebagai periode
kehancuran dan kesengsaraan sebagai akibat timbulnya dua perang dunia (I dan
II), bahkan ancaman perang dunia III masih ada. Dua perang dunia tersebut telah
menyebabkan 2/3 penduduk dunia terancam kelaparan. Pertambahan produksi pangan
tidak seimbang dengan pertambahan jumlah penduduk. Kemajuan di bidang angkasa
luar seyogyanya diimbangi pula dengan kondisi dimana seluruh manusia di dunia
ini cukup sandang, pangan, dan papan. Di samping
itu, kemajuan-kemajuan di bidang ilmu dan teknologi tidak diikuti dengan
perkembangan-perkembangan ide-ide baru yang bersifat universal. Ide-ide yang
membelenggu pikiran kita pada periode ini masih berasal dari periode
sebelumnya. Komunisme, Sosialisme, Fasisme serta Anarkisme di bidang politik
adalah produk periode Victoria (abad ke-19). Juga teori evolusi, yang demikian
tersohor serta Freud, bapak psikoanalisa adalah milik masa lalu (abad ke-19).
Gagasan-gagasan yang mengatur hubungan antar manusia dan gagasan keagamaan
semuanya adalah milik abad ke-19.
Yang benar-benar milik
abad ke-20 ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan atom, elektron, proton,
galaksi serta bintang-bintang. Teori relativitas serta para ahli nuklir serta
gagasan-gagasan abstrak lainnya menjauhkan manusia dari hakikatnya.
b. Tatanan sosial politik
Inggris periode Modern
Beberapa hal yang penting
yang terjadi pada periode ini ialah bahwa Inggris telah kehilangan kekuasaannya
yang dominan seperti yang dimilikinya pada periode sebelumnya. Inggris berada
di posisi ke-3 setelah Amerika dan Rusia. Masalah berikutnya adalah, Inggris
harus menghadapi dua perang dahsyat yang telah menyebabkannya banyak kehilangan
dana dan daya, pemuda serta kekayaannya, khususnya selama perang dunia ke-2
(1939-1945). Juga hilangnya banyak kapital/modal di luar negeri Inggris. London
bukan lagi merupakan pusat modal dunia.
Hal lain yang terjadi di
Inggris pada periode ini adalah usaha menaikkan standar kehidupan bangsa
Inggris, baik di bidang kesehatan, kesempatan kerja, perumahan, pendidikan
ataupun pemberian tunjangan pada sejumlah besar penduduk, melalui partai
Liberal yang kemudian dilanjutkan oleh partai Buruh. Setiap orang menyumbangkan
sejumlah kekayaan yang mereka miliki untuk kepentingan program kesejahteraan
ini.
Dalam paruh abad ini
terjadi perubahan dalam tatanan kenegaraan. "British Empire" berubah menjadi "British Commonwealth". Perubahan ini bukanlah sekedar
perubahan nama, Irlandia, kecuali Ulster, menyatakan kemerdekaannya
sebagai negara Republik Irlandia pada tahun 1921. India dan Pakistan, meskipun
masih menjadi negara Commonwealth merdeka pada tahun 1947. Pada awal abad ini,
Australia, Canada dan New Zealand, menjadi negara dominion. Negara-negara di
Afrika Barat seperti Ghana dan Nigeria, menciptakan pemerintahan sendiri dengan
bantuan Inggris. Ide dibalik "British
Commonwealth" ini telah memberikan inspirasi pada konstitusi Amerika. Hubungan Inggris dengan
negara-negara commonwealthnya serta dominionnya saat ini lebih bersifat
"sentimental" daripada "financial".
Sebagai akibat dari "reform bills" parlementer
yang disahkan pada periode Victoria (lihat Modul 5 sub-pokok bahasan 1),
tumbuhnya pemerintahan sendiri yang kokoh serta hak milik yang meluas,
pengawasan pemerintahan, baik di Inggris maupun di koloni-koloninya, bergeser
dari aristokrasi ke golongan menengah dan rendah. Masyarakat, terutama golongan
menengah, menikmati hasil kemakmuran yang cukup tinggi dengan kemajuan di
bidang ekonomi. Namun di pihak lain banyak kecaman yang terlontar dari beberapa
penulis akibat merajalelanya materialisme, rasa puas diri serta tumpulnya rasa
estetis. Kecaman-kecaman tersebut dilontarkan diantaranya oleh para penulis
muda Inggris seperti Kingsley Amis, John Osborne, dan John Braine.
2.
Ciri-ciri Sastra, Para Pengarang, dan Karya Sastra Inggris Periode
Modern
Pada pembahasan ke dua,
Anda akan mempelajari ciri-ciri karya sastra pada periode Modern, beberapa
pengarang dan karya-karyanya. Disamping itu diberikan
pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan pada periode
ini.
Mempelajari ciri-ciri karya sastra periode Modern sangat
penting karena dapat memudahkan pemahaman Anda terhadap karya-karya sastra
Inggris baik yang berbentuk puisi, prosa maupun drama dalam periode ini.
Setelah mempelajari pembahasan ke dua ini, Anda diharapkan dapat
menjelaskan ciri-ciri karya sastra Inggris periode Modern, pengarang serta
karya-karya pada periode ini.
Ciri-ciri karya sastra pada periode Modern. Satu hal penting yang
perlu dicatat pada periode ini adalah hilangnya optimisme bermula dari zaman
Victoria seperti yang telah diperlihatkan oleh penyair-penyair periode
tersebut, Siegfried Sassoon (1886-1967) serta Robert Graves (1885-1985) dan yang juga
terlihat pada karya-karya Bernard Shaw
(1895-1950), H.G. Wells (1866-1946)
serta Arnold Bennett (1867-1893)
sirna dari khasanah sastra Inggris. Para pengarang muda lebih cenderung
bersifat menghindar dari masyarakat ramai. Kesusastraan tidak lagi mendapat
tempat di kalangan masyarakat luas. Kesusastraan dianggap hanya santapan bagi
sekelompok kecil masyarakat yang berbudaya. Pokok pikiran lama yang menganggap
bahwa kesusastraan dapat dinikmati oleh segala lapisan masyarakat, oleh hampir
setiap orang tidak lagi berlaku hingga tahun 1920 an, karena tulisan-tulisan
yang sulit dicerna, misalnya tulisan T.S.
Eliot, James Joyce atau tulisan Virginia
Woolf. Apalagi kelas menengah yang suka membeli buku serta tulisan-tulisan
yang berkaitan dengan kesusastraan atau yang getol melihat pementasan-pementasan
drama tidak lagi mau membelanjakan uangnya untuk kepentingan di atas, dan kelas
buruh yang jumlahnya banyak belum tertarik pada buku atau aktor pentas. Namun
rintangan yang paling utama sebenarnya adalah suasana pada saat itu yang membawa
masyarakat Inggris kepada suatu masyarakat yang tidak memiliki imajinasi maupun
inspirasi.
a.
Prosa
Tidak sebagaimana abad
ke-19, bentuk prosa mendapat tempat yang terhormat pada periode modern ini.
Beberapa penulis mulai mempelajari teknik penulisan serta bahan cerita. Kita dapat melihat penggunaan teknik "surat" (epistolary
technique), teknik otobiografi (autobiography technique) serta teknik
"mata Tuhan" (God' eyes).
Di samping ketiga teknik tersebut ada penulis yang menggunakan teknik
percakapan tanpa unsur naratif. Namun ada beberapa pengarang yang tidak puas
dengan teknik-teknik tersebut di atas karena dianggap kurang dekat dengan
pembaca. Mereka menciptakan sebuah teknik penulisan yang disebut "arus
kesadaran" (stream of consciousness)
atau teknik "monolog dalam kesadaran" (interior monologue). Di dalam menulis novel-novelnya seorang
pengarang kadang-kadang menggunakan satu teknik, kadang-kadang menggunakan
lebih dari satu teknik.
|
Joseph Conrad (1857-1924), adalah seorang laki-laki kelahiran Polandia yang telah
menjadi warga Negara Inggris. Sebagai pelaut, sejak berusia 19 tahun ia telah
melanglang buana ke berbagai pelabuhan dan negara-negara di Asia Pasifik dan
benua Amerika. Karya-karya novel maupun cerita pendeknya berlatar
belakang pengalamannya mengarungi samudera. Novel-novel Conrad biasanya
bersifat petualangan. Beberapa karyanya yang patut diketengahkan antara
lain The Nigger of the Narcissus terbit pada tahun1897, kemudian Youth terbit pada tahun 1902 serta Lord Jim terbit pada tahun 1900 yang
menceritakan tentang seorang kapten kapal yang meninggalkan kapalnya yang
mengalami kecelakaan dan meninggalkan penumpang-penumpang pribumi Asia.
|
Beberapa karya Conrad yang dianggap berhasil adalah Heart of Darkness, Nostromo, Typhoon. Meskipun
bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu baginya, namun karya-karyanya ditulis dengan
bahasa Inggris yang sangat mengagumkan meskipun kadang-kadang kalimat-kalimat
yang ditulisnya terkesan panjang dan sulit dimengerti.
|
Herbert George Wells (1866-1946) suka
sekali menampilkan peristiwa-peristiwa fantastis yang ditimbulkan oleh
kemajuan ilmu pengetahuan pada periode ini. Sebuah karyanya yang fantastis
adalah The Time Machine yang terbit
pada tahun 1955, yang mengisahkan manusia yang dapat dipindahkan ke masa
lampau atau ke masa
depan dengan seketika oleh mesin waktu tersebut. Dalam karyanya yang berjudul
The Modern Utopia yang terbit pada
tahun 1905, Wells memasukkan
gagasan-gagasan sosialisme dan keinginannya akan tatanan dunia yang lebih
wajar, beberapa karyanya yang lain adalah The
Invisible Man, The War of the
Worlds, The First Men in the Moon.
Karya-karyanya yang berjudul Ann
Veronica mengungkapkan pandangannya tentang emansipasi wanita.
|
Kepincangan-kepincangan
yang terjadi di dalam masyarakat khususnya yang berkaitan dengan dunia
perdagangan ditulisnya dalam Tono Bungay
yang terbit pada tahun 1909. Jika kita bermaksud mengetahui harapan-harapan
serta kekecewaan-kekecewaan masyarakat Inggris pada permulaan periode ini,
karya-karya Wells banyak memberikan
jawaban. Wells telah memperkenalkan
bentuk roman ilmiah (scientific romance)
dalam khasanah kesusastraan Inggris masa kini.
|
John Galsworthy (1867-1933),
seorang novelis dan dramawan yang menyorotin keg\hidupan kelas atas Inggris
dalam novelnya Forsyte Saga (1906-1921),
modern komedi yang terdiri dari The
White Monkey (1924), The Silver
Spoon (1926), The Swan Song (1928).
Novel-novel lainnya adalah Jocelyn (1898),
The Country House (1907), Fraternity (1909), The Patrician (1911), The Free Land (1915, Maid in Waiting (1931), dan Flowering While Dernes (1932).
|
Salah satu penganut paham
eksperimental yang paling berani adalah David
Herbert Lawrence (1885-1930) yang
disebut sebagai Rousseau modern. Dalam novel pertamanya, dirinya sendiri muncul
yaitu seorang anak laki-laki yang mengidap penyakit paru-paru dan orang tuanya
adalah buruh tambang di utara. Dia bergantung pada ibunya tetapi tersiksa oleh
keinginannya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Novelnya yang pertama
adalah The White Peacock yang terbit
pada tahun 1911, kemudian diikuti dengan Sons
and Lovers pada tahun 1913 dan The
Rainbow pada tahun 1915. Semua karyanya bersifat autobiografi dan
menceritakan bahwa dia kemudian akan mengajarkan adanya kekuatan yang sifatnya
masih ramalan, bahwa era mesin dan kemampuan intelektual telah memusnahkan akar
manusia yang paling dalam, dan satu-satunya jalan untuk mencapai keselamatan
adalah dengan mematuhi kuasa gelap, mendengarkan panggilan darah dan melepaskan
daya seksual.
Untuk mencapai tujuan
tersebut, Lawrence berkeliling dunia dan menggambarkan pengalamannya tentang
latar belakang tempat-tempat yang ia kunjungi. Sebagai contoh, Aaron’s Rod (1922) dibuat di Italia, Kangaroo (1932) dibuat di Australia, dan
The Plumed Serpent (1926) dibuat di
Mexico. Dia melukiskan pemandangan secara indah dan hidup seperti pada Birds, Beasts and Flowers (1923, 1930)
yang merupakan judul dari buku puisinya yang menyenangkan, tetapi seringkali
kurang meyakinkan dalam melukiskan karakter manusia. Pandangannya tentang nilai
tertinggi atas kepuasan seksual menjadi ciri penting dari karyanya, dan Lady Chatterley’s Lover mengekspresikan secara jelas. (edisi yang telah disensor
diterbitkan pada tahun 1928, versi yang lengkap diterbitkan di Paris pada tahun
1929, dan edisi penuh di Inggris pada tahun 1960).
Jika Lawrence menginginkan
keselamatan secara jasmani, Aldous
Huxley (1894-1963), mula-mula
mencarinya melalui pikiran dan diteruskan ke jiwa. Dia adalah seorang
intelektual kafir, yang pada akhirnya menjadi penganut ilmu kebatinan. Novelnya
yang pertama Crome Yellow (1921),
sebuah satire sosial yang memikat dengan memakai gaya teman lama Shelley yaitu
Thomas Love Peacock (1785-1866) adalah tulisannya yang paling baik dan tidak
diragukan lagi merupakan bukunya yang paling menghibur. Those Barren Leaves (1925) dan Point
Counter Point (1928) lebih ambisius tetapi bentuknya kurang bagus. Brave New World (1932) adalah sekilas
ramalan tentang masa depan totaliter yang mengerikan; dan di dalam novel
terakhirnya menonjolkan kecenderungan mistik. Dia menjadi asyik dengan
penebusan umat manusia dan percaya bahwa cahaya dapat diterima melalui
penggunaan obat-obatan secara bebas.
|
James Joyce (1882-1941),
orang Irlandia setelah menerbitkan sebuah edisi cerita pendek, Dubliners (1914) dan sebuah novel
autobiografi, A Portrait of the Artist
as a Young Man (1916), pada tahun 1922 mempersembahkan narasinya yang
revolusioner yaitu Ulysses.
Penemuannya itu menghasilkan varian modern dari Odyssey, halamannya yang
berjumlah 800 lembar menceritakan tentang petualangan selama sehari hidup
seorang pengusaha kecil bangsa Yahudi, Leopold Bloom, saat dia mengembara di
Dublin. Bloom memanfaatkan parodi dari Odyssey tetapi secara keji dan jorok.
Sebelumnya karakter Bloom sendiri adalah simpatik; dan latar belakangnya
jalan raya Dublin yang sibuk digambarkan oleh Joyce sebagai paduan dari cinta
dan kebencian. Penggunaan kata-katanya sungguh mengagumkan; dan dapat
dikatakan dia hampir selalu menemukan istilah-istilah sastra yang baru.
|
Yang paling efektif adalah
pemakaian “interior monologue” untuk menggambarkan alur yang berliku-liku dari
pikiran Bloom, yaitu ingatannya akan masa lalu dan harapannya akan
kebahagiaannya di masa depan. Joyce menulis setiap babnya dengan gaya yang
berbeda, menggunakan bahasa dari golongan cendekiawan, pengacara, pejuang,
pengusaha, penjagal, dan pelacur. Selain meniru struktur Odyssey, kadang-kadang
dia juga memparodikan karya-karya Inggris klasik. Buku terakhirnya, Finnegans Wake (1939), walaupun berisi
tulisan evokatif yang sangat bagus, tidak dapat mencapai tujuannya.
Eksperimennya dengan bahasa sangat berani sehingga membuat pembacanya kagum.
|
Novelis lain yang
menggunakan Interior Monologue adalah Virginia
Woolf (1882-1941). Novelnya yang
pertama, The Voyage Out (1915)
menceritakan tentang kisah yang terus terang, tetapi saat dia membuat Mrs. Dalloway (1925) dan To the Lighthouse (1927), yang
dianggap sebagai buku terbaiknya, dia mulai menggunakan teknik yang baru sama
sekali, gabungan antara kesan-kesan yang hidup walaupun tidak berhubungan
dengan catatan pikiran serta perasaan yang terlintas dalam benaknya.
Keindahan novelnya tidak hanya terletak pada ceritanya tetapi juga pada
tekstur tulisannya.
|
|
Sebagai
novelis, Arnold Bennet (1867-1931)
dianggap dekat dengan gaya realis, dengan golongan bawah sebagai bahan
cerita, khusunya mereka yang hidup di kota-kota yang berdekatan dengan
industri keramik di Inggris utara. Ia selalu menulis
tentang kondisi yang selalu berlawanan; kondisi yang mengacu kepada realisme
dan kondisi yang mengacu pada romantisme. Ini
terlihat pada karyanya yang berjudul The
Old Wive's Tale, juga dalam triloginya Clayhanger, Hilda Lessways
serta These Twain. Ciri khasnya
yang menonjol sebagai seorang novelis adalah regionalisme dan naturalisme
yang dipengaruhi oleh penulis Perancis Zola dan Maupassant.
|
|
Seorang
realis lainnya yang hidup pada masa ini adalah William Somerset Maugham (1874-1965),
kehidupan W. Somerset pada awalnya tidak bahagia. Dia lahir di Perancis,
tetapi orang tuanya adalah orang Inggris dan keduanya telah meninggal ketika
dia masih kecil. Oleh karena itu dia pergi ke Inggris dan tinggal
bersama pamannya yang suasananya dingin dan keras. Seting ini muncul dalam
novelnya yang berjudul Cakes and Ale (1930),
dimana dia menggambarkan seorang anak laki-laki seperti dirinya: pemalu,
ragu-ragu, gagap, tetapi juga imajinatif dan responsif. Maugham menempuh studinya di sekolah Inggris dan di Universitas
Heidelberg. Dia ingin menjadi penulis, tetapi atas desakan pamannya ia kemudian
belajar ilmu kedokteran.
|
Setelah menjalani masa
belajar selama setahun di daerah kumuh Lambeth di London, Maugham terkena
serangan TBC, kemudian segera pergi untuk melakukan perjalanan keliling dunia,
dimana dia mulai menulis. Dia bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi
keberhasilan tidak dapat diraih dengan mudah. Dalam novelnya yang paling
terkenal, Of Human Bondag (1915), dia
bercerita tentang pindahnya seorang mahasiswa kedokteran yang masih muda
seperti dirinya sendiri. Novel-novel lainnya The Hero (1901), The Moon and
Sixs Pence (1919), The Painted Veile (1925),
The Casuarine Tree (1926). Sedangkan
kumpulan cerpennya: The Tranmblinf of a
Leaf (1921), The Mixcure as Before (1940).
Somerset Maugham mungkin menjadi pendongeng yang paling ulung pada saat itu. Dia telah
banyak melakukan perjalanan keliling dunia dan mengumpulkan banyak kisah selama
perjalanannya. Dia menulis cerita novelnya dan drama dengan kejadian yang aneh,
karakter yang ganjil, seiring dengan setting yang exotik. Mungkin salah satu
rahasia kepopulerannya terletak dalam tujuan yang dikatakannya dalam menulis
yaitu hiburan. Dia mengatakan kesenangan, didalamnya sendiri adalah baik. Namun
dia tidak pernah menulis yang sifatnya menyenangkan atau cantik. Walaupun dia
tidak membela orang miskin, dia menggambarkan golongan atas dengan sebuah ironi
yang seringkali menyakitkan.
|
George Orwell (1903-1950), adalah
nama pena dari Eric Blair, seorang novelis, jurnalis dan kritikus yang
dilahirkan dalam sebuah keluarga kelas menengah yang miskin dan belajar di
Eton. Pada tahun 1922 sampai 1927 dia menjadi polisi Burma tetapi kemudian
mengundurkan diri karena tidak suka pada apa yang dia namakan sebagai
penindasan yang emperialis yang dia tampilkan dalam novelnya Burmese Days (1934). Perasaan
bersalahnya secara sosial dituangkannya dalam Down and Out in Paris and London (1933). Pada puncak depresi
ekonomi tahun 1930-an dia membuat penelitian pribadi tentang keadaan di
Inggris di bagian utara yang dia lukiskan ke dalam novel The Road to Wigan (1937).
|
Pengalaman bertempurnya
di Spanyol dia tuliskan dalam Homage to
Catalonia (1938). Dia menganggap dirinya seorang sosialis demokratis yang bebas.
Selama Perang Dunia II dia ditolak menjadi tentara karena alasan kesehatan, dan
kemudian bekerja di BBC India. Pada tahun 1945, dia menerbitkan mahakaryanya,
sebuah fable satire politik terhadap Stainlisme yang berjudul Animal Farm. Setelah perang dia menulis karya yang sangat terkenal
(1949), yang bercerita tentang fisi sebuah dunia yang diatur oleh kediktatoran
gaya Stali yang dikontraskan dengan kehidupan dan pemikiran pribadi,
propaganda, dan manipulasi bahasa. Novel-novelnya yang lain adalah A Clergyman's Daughter (1935), Keep the Aspidrisa Flying (1936), dan Coming Up for Air (1939). Sedangkan
karya terbesarnya di bidang kritik sastra dan sosial adalah Inside the Whle (1940), The Lion and the Unicorn (1941), Critical Essays (1946), dan Shooting an Elephant (1950).
b. Puisi
Tidak seperti abad
sebelumnya, puisi pada periode ini tidak berada di tempat teratas dari khasanah
kesusastraan Inggris. Para penyair pada periode ini terbagi menjadi dua
golongan, yaitu mereka yang masih menggunakan standar-standar kreativitas dalam
berkarya seperti penyair Robert Bridges
(1844-1930). Bridges masih menggunakan standar kreativitas lama serta menolak
adanya pembaharuan. Dia menganggap bahwa puisi adalah sesuatu yang harus
dipelajari. Karyanya yang tersohor adalah “The
Testament of Beauty” yang terbit pada tahun 1929. Pada karyanya ini, Bridges menuliskan tentang
filsafat hidupnya.
Salah satu yang
mencolok pada perkembangan puisi modern adalah adanya kecenderungan untuk
meninggalkan tema serta bentuk tradisional dan mengadakan beberapa eksperimen.
Salah satu eksperimen yang kita kenal adalah “Imagism”. Gerakan imagism ini dipelopori oleh penyair-penyair
Amerika seperti Ezra Pound, Amy Lowell dan Hilda Dolittle, dan seorang penyair
Inggris Richard Aldington. Bagi
gerakan imagism, puisi adalah penyajian situasi visual dengan menggunakan
sedikit mungkin kata-kata yang konkret serta bebas dari isian moral dan
filsafat. Meskipun gerakan imagism berangsur-angsur ditinggalkan pengikutnya,
namun gerakan ini telah berjasa besar terhadap perkembangan puisi modern.
Keadaan ini dituliskan dalam puisi Aldington (1892-1962) yang berjudul “Images of War” terbit pada tahun 1919
serta “Medallions in Clay” pada tahun
1912. dua kumpulan puisi tersebut mengemukakan beberapa kelebihan serta
kekurangan “imagism”. Sebuah karyanya
yang lain yang berjudul “A Fool in the
Forest” terbit pada tahun 1925, lebih banyak mengisahkan tentang sirnanya
imajinasi serta intelektualitas akibat perang.
|
Reputasi Alfred Edward Housman (1859-1936) sebagai seorang penyair
terletak pada kualitas yang tinggi dari beberapa puisi. Pada tahun 1896 dia
menerbitkan “A Shropshire Lad”,
yang terdiri dari enam puluh tiga lirik yang sederhana. Isinya bercerita
tentang meditasi yang dilakukan oleh seorang pemuda, kebanyakan diwarnai
dengan nada prihatin, ejekan atau pesimis, tetapi yang lain berisi tentang
kegembiraan seorang anak petani di desa selama musim semi. Hal yang khusus
adalah rasa dari puisi-puisinya yang membuatnya tiba-tiba diangkat menjadi
pemimpin diantara penyair-penyair baru abad ke-20.
|
Dia tidak menerbitkan
karyanya lagi selama dua puluh enam tahun. Kemudian sebuah edisi
yang lebih kecil muncul yaitu “Last Poems”.
Edisi ketiga, “More Poems”,
diterbitkan oleh saudaranya Laurence setelah penyairnya meninggal. Dia adalah
seorang sarjana yang terkenal. Setelah meninggalkan Oxford, bekerja selama
sepuluh tahun di perusahaan Inggris yang paten, sebuah pekerjaan yang
ditinggalkannya untuk menjadi seorang professor bahasa Latin, pertama-tama di
Universitas London dan kemudian di Cambridge. Lirik yang dibuatnya sederhana,
indah dan sangat halus bahasanya membawa pengaruh dalam studi klasik.
|
Karya
sastra yang total dari William Butler
Yeats (1865-1939) adalah hebat.
Sebagian berhubungan dengan semangat patriotik serta puitik, karena Yeats
mengambil bagian secara aktif dalam Renaissance
Celtic (Kelahiran kembali Celtic), dan dia adalah seorang senator dari
negara bagian Irlandia yang baru saja berdiri. Kebanyakan puisinya diilhami
oleh kedua hal tersebut. Lahir di Dublin dan menempuh pendidikan di London,
pada awalnya dia tinggal bersama kakek dan neneknya di kota Sligo. Disini di
menjadi akrab dengan cerita rakyat Irlandia yang pengaruhnya sangat besar
dalam kehidupannya.
|
Yeats sebagai salah seorang pendiri teater nasional
Irlandia yaitu teater di Dublin, minat khusus Yeats adalah drama puitik. Ketika
teater tersebut mulai memproduksi drama prosa realistic, Yeats membuktikan
bahwa dia dapat menulis secara efektif keduanya. “The Land of Heart’s Desire” adalah contoh dramanya yang penuh
dengansyair simbolik. “The Pot of Broth”
adalah drama berbentuk prosa yang sukses.
Yeats juga seorang penulis essay
dan kritik. Dia sangat terkenal walaupun pada awalnya liriknya penuh dengan
metaphor dan symbol. Pada tahun 1923 dia menerima hadiah nobel untuk
kesusastraan karena “puisi emosionalnya yang konsisten, dalam bentuk artistik
yang paling kaku, mencerminkan semangat manusia”.
|
Karier Thomas Stearns Eliot (1888-1965) dalam bidang sastra
adalah sebuah contoh yang menandai berubahnya pemikiran manusia yang dapat
dilakukan denga bertukar pengalaman hidup. Dia berasal dari St. Louis,
Missouri. Setelah lulus dari Universitas Harvard tahun 1910, dia meneruskan
di Sorbonne Paris dan kemudian belajar filsafat Yunani di Oxford sebagia
seorang sarjana Rhodes. Cara hidup orang
Inggris sangat menarik baginya sehingga dia terus tinggal di sana.
Pada
awalnya puisi Eliot menentang keceriaan, kehalusan dan kejelsan puisi-puisi
sebelumnya. Dia menulis puisi yang keras dan rapuh. Dalam pola, puisi ini
berisi kiasan klasik yang berliku-liku, jenaka, simbolnya tidak jelas, dan
frasenya samar.
|
Dalam suasana hati,
menyampaikan pesan bahwa hidup ini sia-sia. Contohnya dalam
puisinya yang paling terkenal – The Waste
Land dan The Hollow Men. Tetapi dalam puisi selanjutnya yang panjang
yaitu Ash Wednesday (1930),
menunjukkan perubahan sikap Eliot. Keputusasaan berangsur-angsur digantikan
oleh salah satu kepercayaan keagamaan. Mulai saat itu karya Eliot mengambil
nada yang lebih berpengharapan.
Dengan dua lakonnya, Murder in the Cathedral (1935) dan The Family Reunion (1939), Eliot
membangkitkan lagi tradisi puitik di teater. Dalam tahun-tahun terakhir dia
menghasilkan karya-karya lain yang sukses yaitu The Cocktail Party (1950), The
Confidental Clerk (1953), dan The
Elder Statesman (1959). Dialog dalam lakonnya berirama bebas seperti Beowulf. Semua tulisannya- drama, puisi, prosa –
mempunyai makna yang digarisbawahi yang tidak kentara yang tidak akan tampak jika
hanya dibaca sepintas. Eliot dianggap sebagai penyair yang paling terkenal,
salah satu yang paling controversial, dan mungkin yang paling berpengaruh di
abad ke-20.
c.
Drama
|
Pada
periode ini drama mengalami perkembangan pesat. Mulai timbul kembali
kegairahan menulis drama di antara para sastrawan. Tokoh yang
paling dikenal pada masa ini adalah George
Bernard Shaw (1856-1950). Ia kelahiran
Irlandia, namun sejak usia muda telah menetap di London. Sejarah kariernya
sebagai dramawan adalah yang terpanjang di antara para penulis drama di
Inggris lainnya. Ia memulai kariernya sebagai penulis kritik dan banyak
dipengaruhi oleh dramawan Norwegia bernama Henrik Ibsen, sehingga sebagaimana
Ibsen, karya-karya Shaw banyak bermuatan kritik sosial.
|
Oleh sebab itu Shaw menjadi anggota “Fabian Society”
yang mempunyai tujuan mewujudkan sosialisme dengan cara-cara demokratis. Selama
tahun 80 dan 90-an, Shaw menjadi seorang wartawan, menulis kritik-kritik
tentang musik, buku dan tentang seni untuk beberapa koran. Dari sinilah ia
mulai merasakan betapa leluasanya ia mengungkapkan idenya kepada khalayak
ramai. Karena ia kemudian melihat betapa miskinnya khasanah drama Inggris yang
berkualitas, ia kemudian menulis dramanya sendiri. Ellen Terry, seorang aktris
romantik yang terkemuka pada saat itu banyak memberikan inspirasi kepada
karya-karya Shaw, dan ia pun kemudian menjadi teman akrab Shaw.
Di samping kemampuan
literernya, Shaw dikenal pula karena
sifat-sifat pribadinya yang aneh. Pikirannya yang aktif selalu dipenuhi dengan
gagasan-gagasan: ia tidak setuju dengan pengucapan bahasa Inggris yang baku,
misalnya. Pada tahun1925, karena prestasinya yang luar biasa, ia mendapat hadiah
nobel untuk kesusastraan. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Pygmalion yang ditulisnya pada tahun
1912. Judul cerita ini berasal dari sebuah mitos Yunani yang mengisahkan
seorang pemahat yang bernama Pygmalion memahat
seorang wanita dan kemudian ia jatuh cinta pada pahatannya tersebut. Kemudian dewa Aphrodite yang mirip dengan patung tersebut menjadikannya
benar-benar hidup seperti manusia layaknya. Tokoh Pygmalion dalam drama Shaw adalah Prof. Higgins, seorang ahli
fonetik yang memiliki hobby mempelajari berbagai dialek. Higgins berhasil
mengangkat seorang wanita jalanan yang buta huruf menjadi seorang “lady” yang
bisa diterima oleh kalangan atas. Drama Pygmalion ini sebenarnya adalah sebuah
satire sosial yang dikemas secara halus. Beberapa karya Shaw yang lain adalah Arms and the Man yang merupakan sebuah
satire terhadap pendewaan kehebatan militer. Kemudian Man and Superman yang terbit pada tahun 1905 yang melukiskan wanita
sebagai perwujudan kehendak alam untuk kelangsungan keturunan. Pada tahun 1906
terbit The Doctor’s Dilemma, sebuah
kritik terhadap dunia kedokteran. Drama-dramanya yang lain di antaranya Getting Married sebuah satire kehidupan
seks, Androcles and the Lion dan
karyanya yang terakhir adalah Bouyant
Billions yang terbit pada tahun 1949.
Di samping Shaw ada
beberapa penulis drama lain, yang sekaligus juga penulis novel, yaitu John Galsworthy, yang juga menulis
tentang masalah-masalah sosial yang muncul pada masa ini. Beberapa karyanya
antara lain The Silver Box (1906), Joy (1907), Strife (1909), Justice
(1910), The Pigeon (1912), The Eldest Son (1912), The Fugitive (1913), The Skin Game (1920),
Loyalties (1922), The Forest (1924) dan sebuah drama yang disiarkan oleh TV
dan radio yang berjudul The Forstyle Saga
(1967). Di samping Galsworthy, ada seorang penulis drama liris yaitu W.H. Auden yang lahir pada tahun 1907.
Bersama-sama dengan Christopher
Isherwood yang lahir pada tahun 1904, Auden menulis The Ascent of F6 (1936), On
The Frontier (1938), The Dog beneath
the Skin (1935). William Somerset
Maugham juga menulis beberapa drama yang sukses
tetapi sekarang kurang diminati adalah Our
Betters (1917), Kaisar's Wife (1919),
East of Suez (1922), The Constant Wife (1926), The Letter (1927), The Bread Winner (1920), dan Sheppey
(1933).
3.
Pengenalan Apresiasi Karya Sastra Inggris Periode Modern
Pada bagian 3 ini, Anda
dapat mengenal dan mengapresiasi karya sastra Inggris pada periode Modern dalam
genre puisi, prosa, dan drama. Disamping itu diberikan
pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan pada periode
ini.
Mengapresiasi karya
sastra Inggris periode Modern sangat penting untuk memperdalam pemahaman
terhadap karya-karya sastra Inggris baik yang berbentuk puisi, prosa maupun
drama dalam periode ini. Anda diharapkan mampu
menjelaskan dan mengapresiasi karya sastra Inggris periode Modern.
Sebagai bahan apresiasi
karya sastra Inggris Modern, Anda akan mempelajari sebuah cerpen karya Joseph
Conrad, puisi karya T.S. Eliot, dan cuplikan drama karya George Bernard Shaw.
a.
Prosa
Berikut ini adalah contoh cerita pendek yang berjudul “The Lagoon” karya Joseph Conrad. Anda pelajari dengan saksama cerpen
berikut.
The Lagoon
Joseph Conrad
THE WHITE MAN, learning with both arms over the roof of the little house
in the stern of the boat, said to the steersman:
“We will pass the night in Arsat’s clearing. It is late.”
The Malay only grunted and went on looking fixedly at the river. The
white man rested his chin on his crossed arms and gazed at the wake of the
boat. At the end of the straight venue of forests cut by the intense like a
band of metal. The forests, sombre and dull, stood motionless and silent on
each side of the broad stream. At the foot of big, towering trees, trunkless
nipa palms rose from the mud of the bank, in bunches of leaves enormous and
heavy, that hung unstirring over the brown swirl of eddres. In the stillness of
the air every tree, every leaf, every bough, every tendril of creeper and every
petal of minute blossoms seemed to have been bewitched into an immobility
perfect and final. Nothing moved on the river but me eight paddles that rose
flashing regularly, dipped together with a single splash, white the steersman
swept right and let with a periodic and sudden clongish of his blade describing
a glinting semicircle above his head. The churned-up water frothed alongside
with a confused murmur. And the white man’s canoe, advancing upstream in the
short-lived disturbance of its own making, seemed to enter the portals of a
land from which the very memory of motion had forever departed.
The white man, turning his back upon he saving sun, looked along the
empty and broad expanse of the sea reach. For the last three miles of its
course the wandering, hesitating river, as if enticed irresistibly by the
freedom of an open horizon, flows straight into the sea, flows straight to the
east – to the east that harbors both light and darkness. A stern of the boat
the repeated call of some bird, a cry discourdant and feeble, skipped along
over the smooth water and lost itself, before it could reach the other shore,
in the breathless silence of the world.
The steersman dug his paddle into the stream, and held hard with
stiflened arms, his body thrown forward. The want gurgled aloud; and suddenly
the long straight teach seemed to pivot on its center, the forests swung in a
semicircle, and the slanting beams of sunset bouched the broadside of the canoe
with fiery glow, throwing the slender and astorted shadows of its crew upon the
streaked glitter of the river. The white man turned to look ahead. The course
of the boat had been altered at right angles to the stream, and the carved
dragonhead on its prow was pointing now at a gap in the fringing bushes of the
bank. It glided through, brushing the overhanging twigs, and disappeared from
the river like some slim and amphibious creature leaving the water for its lair
in the forests.
The narrow creek was like a ditch: tortuous, fabulously deep; filled
with gloom under the thin strip of pure and shining blue of the heaven. Immense
trees soared up, invisible behind the festooned draperies of creepers. Here and
there, near the glistening blackness of the water, a twisted root of some tall
tree showed among the tracery of small ferns, black and dull, writhing and
motionless, like an arrested snake. The short words of the paddlers
reverberated loudly between the thick and sombre walls of vegetation. Darkness
owed out from between the trees, through the tangled maze of the creepers, from
behind the great fantastic and unstirring leaves; the darkness, mysterious and invincible;
the darkness scented and poisonous of impenetrable forests.
The men poled in the shoaling water. The break broadened, opening out
into a wide sweep of a stagnant lagoon. The forests receded from the marshy
bank, leaving a level strip of bright green, reedy grass to frame the reflected
blueness of the sky. A fleecy pink cloud drifted high above, trailing the
delicate coloring of its image under the floating leaves and the silvery
blossoms of the lotus. A little house, perched on high piles, appeared black in
the distance. Near it, two tall nibong palms, that seemed to have come
tenderness and care in the droop of their leafy and soaring heads.
The steersman, pointing with his paddle, said, “Arsat is there. I see
his canoe fast between the piles.”
Cerita pendek dengan
judul “The Lagoon” di atas mengisahkan tentang kematian istri Arsat, seorang
laki-laki Melayu serta peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan tentang kematian
tersebut. Namun jika Anda mau menelusurinya lebih dalam, Anda akan sampai pada
suatu pertanyaan apa yang ada di balik cerita yang berlatar belakang laut
tersebut. Konflik-konflik apakah yang harus dihadapi oleh Arsat, mengapa Arsat
gagal menemukan kedamaian meskipun ia tahu bahwa kedamaian itu sebenarnya ada
dalam diri masing-masing orang? Cerita
ini adalah sebuah cerita tragedi.
b. Puisi
Berikut ini adalah contoh
puisi yang berjudul “The Hollow Men”
karya T.S Eliot. Anda pelajari puisi Eliot tersebut dengan saksama.
The Hollow Men
T.S. Eliot
Mistah Kurtz – he dead
A penny for the Old Guy
|
I
We are the stuffied
men
We are the hollow men
Leaning together
Headpiece filled with
straw. Alas!
Our dried voices,
when
We whisper together
Are quiet and
meaningless
As wind in dry grass
Or rats feet over
broken glass
In our dry cellar
Shape without form,
shade without color
Paralyzed force,
gesture without motion
Those who have
crossed
With direct eyes, to
death’sother Kingdom?
Remember us – if at
all – not as lost
Violent souls, but
only
As the hollow men
The stufled men
Not that final
meeting
In the twilight
kingdom
III
This is the dead land
This is cactus land
Here the stone images
Are raised, here they
receive
The supplication of a
dead man’s hand
Under the twinkle of
a fading star
Is it like this
In death’s other
kingdom
Walking alone
At the hour when we
are
Trembling with
tenderness
Lips that would kiss
Form prayers to
broken stone
IV
The eyes are not here
There are no eyes
here
In this valley of
dying stars
In this hollow valley
This broken jaw of
our lost kingdoms
In this last of
meeting places
We grope together
And avoid speech
Gathered on this
beach of the tumid river
Sightless, unless
The eyes reappear
|
II
Eyes I dare not meet
in dreams
In death’s dream
kingdom
These do not appear
There, the eyes are
Sunlight on a broken
column
There, is a tree
swinging
And voices are
In the wind’s singing
More distant and more
solemn
Than a fading star
Let me be no nearer
In death’s dream
kingdom
Let me also wear
Such deliberate
disguises
Rat’s coat, crowskin,
crossed staves
In a field
Behaving as the wind
behaves
No nearer
As the perpetual star
Multifoliate rose
Of death’s twilight
kingdom
The hope only
Of empty men
V
Here we go round the prickly pear
Prickly pear prickly pear
Here we go round the prickly pear
At five o’clock in the morning
Between the idea
And the reality
Between the motion
And the act
Falls the shadow
For Thine is the
Kingdom
Between the
conception
And the creation
Between the emotion
And the response
Falls the shadow
Between the desire
And the spasm
Between the potency
And the existence
Between the essence
And the descent
|
Dalam sajaknya yang
berjudul “The Hollow Men”, T.S. Eliot mencoba mengemukakan tentang peradaban
modern: manusia modern dipenuhi dengan ide-ide, opini-opini serta kepercayaan
yang mereka sendiri tidak dapat merasakannya. Tujuan utama Eliot dalam puisi
ini sebenarnya menciptakan suasana frustasi, kekosongan serta kesedihan seperti
diungkapkan dalam kalimatnya “rats feet over broken glass” (baris ke-9), juga
dalam kalimat “the cactus land” (baris ke-40). Pada bagian ke-5 dari sajak ini,
T.S. Elliot dengan rima yang kekanak-kanakan berusaha mengungkapkan tidak
adanya tujuan yang pasti kehidupan manusia modern: impoten, tak berdaya, dan
akhirnya berakhir dengan “whimper”.
c. Drama
Berikut ini adalah contoh
cuplikan drama yang berjudul Pygmalion
hasil karya George Bernard Shaw.
Pygmalion
George Bernard Shaw
ACT 1
Covent Garden at 11:15 p.m.
Torrents of heavy summer rain. Cab whistles blowing frantically in all
directions. Pedestrians running for shelter into the market and under the
portico of St. Paul’s Church, where there are already several people, among
them a lady and her daughter in evening dress. They are all peering out
gloomily at the rain except one man with his back turned to the rest, who seems
wholly preoccupied with a notebook in which he is writing busily.
The church clock strikes the first quarter.
THE DAUGHTER (in the space between the central pillars, close to the one
of her left). I’m getting childed to the bone. What can Freddy be doing all
this time? He’s been gone twenty minutes.
THE MOTHER (on her daughter’s right). He won’t get no cab not until her-
past eleven, missus, when they come back after dropping their theater fares.
THE MOTHER. But we must have a cab. We can’t stand here until half-past
eleven. It’s too bad.
THE BYSTANDER. Well, it ain’t my fault, missus.
THE DAUGHTER. If Freddy had a bit of gumption, he would have got one at
the theater door.
THE MOTHER. What could he have done, poor boy?
THE DAUGHTER. Other people got cabs. Why couldn’t he?
(Freddy rushes in out of the rain from the Southampton Street side, and
comes between them closing a dripping umbrella. He is a young man of twenty, in
evening dress, very wet round the ankles).
THE DAUGHTER. Well, haven’t you got a cab?
FREDDY. There’s not one to be had for love or money.
THE MOTHER. Oh, Freddy, there must be one. You can’t have tried.
THE DAUGHTER. It’s too tiresome. Doyou expect us to go and get one
ourselves?
FREDDY. I tell you they’re all engaged. The rain was so sudden nobody
was prepared, and everybody had to take a cab. I’ve been to Charing Cross one
way and nearly to Ludgate Circus the other; and they we’re all engaged.
THE MOTHER. Did you try Trafalgar Square?
THE DAUGHTER. Did you try?
FREDDY. I tried as far as Charing Cross Station. Did you expect me to
walk to Hammersmith?
THE DAUGHTER. You haven’t tried at all.
THE MOTHER. You really are very helpless, Freddy. Go again; and don’t
come back until you have found a cab.
FREDDY. I shall simply get soaked for nothing.
THE DAUGHTER. And what about us? Are we to stay here all night in this
draught, with next to nothing on? You selfish pig.
FREDDY. Oh, very well! I’ll go, I’ll go.
(He opens his umbrella and dashes off Strandwards, but comes into
collision with a flower girl, who is hurrying in for shelter, knocking her
basket out of her hands. A blinding flash of lightning, followed instantly by a
ratting peal of thunder, orchestrates the incident).
THE FLOWER GIRL. Nah then, Freedy, look why ‘y’ growing, deah.
FREDDY. Sorry (He rushes off)
THE FLOWER GIRL (picking up her scattered flowers and replacing them in
the basket). There’s menners f’ yer! Te-oo banches o’voylets trod into the mad.
(She sits down on the plinth of the column, sorting her flowers, on the lady’s
right. She is not at all an attractive person. She is perhaps eighteen, perhaps
twenty, hardly older. She wears a little sailor hat of black straw that has
long been exposed to the dust and soot London and has seldom if ever been
brushed. Her hair needs washing rather badly: its mousy color can hardly be
natural. She wears a shoddy black coat that reaches nearly to her knees and is
shaped to her waist. She has a brown skirt with a coarse apron. Her boots are
much the worse for wear. She is no doubt as clean as she can afford to be; but
compared to the ladies she is very dirty. Her features are no worse that
theirs; but their condition leaves something to be desired; and she needs the
services of a dentist).
THE MOTHER. How do you know that my son’s name is Freddy, pray?
THE FLOWER GIRL. Ow, cez-ye-ooa san, is e? Wat, fewd and y’ de-ooty
bawmz a mather should, eed now bettern to spawl a pore gel’s flahrzn than ran
away athaht pyin. Will ye-oo py me f’ them?
(Here, with apologies, this desperate attempt to represent her dialect
without a phoetic alphabet must be abandoned as unintelligible outside London).
THE DAUGHTER. Do nothing of the sort, Mother. The idea!
THE MOTHER. Please allow me, Clara. Have you any pennies?
THE DAUGHTER. No, I’ve nothing smaller than sixpence.
THE FLOWER GIRL (hoperfully). I can give you change a tanner, kind lady.
Glosarium
Alinasi. Perasaan-perasaan keterasingan dan keterpinggiran yang ditampilkan
dengan menggunakan latar fisik yang berbeda atau bentuk artistik untuk
memberikan kejelasan dan kemapanan pandangan-pandangan mereka tentang perbedaan
dan keunikan individual.
Autobiography
technique. Teknik penulisan novel yang berbentuk cerita diri. (teknik
autobiografi).
British Commonwealth. Dalam paruh abad ini terjadi perubahan dalam tatanan kenegaraan
Inggris. British Empire berubah
menjadi British Commonwealth.
Perubahan ini bukanlah sekedar perubahan nama. Irlandia, kecuali Ulster,
menyatakan kemerdekaannya sebagai negara Republik Irlandia pada tahun 1921.
India dan Pakistan, meskipun masih menjadi negara commonwealth merdeka pada tahun 1947. Ide dibalik "British
Commonwealth" ini telah memberikan inspirasi pada konstitusi Amerika. Hubungan Inggris dengan negara-negara commonwealthnya serta dominionnya
saat ini lebih bersifat "sentimental" daripada "finansial".
Chicago Renaissance. Gerakan yang menantang kemapanan sastra Pantai Timur Amerika serta
menunjukkan kematangan bagian dalam Amerika. Tiga penyair Midwest yang aktif
dalam gerakan itu adalah Carl Sandburg, Vachel Lindsay, dan Edgar Lee Masters
yang mengembangkan teknik realisme dalam puisi.
Eksperimentalisme. Prinsip percobaan yang dipertahankan secara ketat dalam pandangan
kebanyakan kaum modernisme.
Epistolary technique. Teknik penulisan novel yang berbentuk surat (teknik surat).
Fugitive Agrarian
Movement. Gerakan kesadaran diri modern dari tahun1920-1930 di selatan
memunculkan semacam kontradiksi dalam modernisme menjadi sebuah mesin
kreativitas.
God'eyes technique. Teknik penulisan novel dengan menggunakan sudut pandang mahatahu
(teknik mata Tuhan).
Harlem Renaissance. Gerakan kelahiran kembali kaum kulit hitam pada tahun 1920-an dalam
kehidupan budaya dan lingkaran sastrawan "New Negro" seperti Countee
Cullen, Arna Bontemps, Wallace Thurman, Zora Neale Hurston, Eric Walrond dan
lain-lain.
Modernisme. Gerakan kesenian dimana kesadaran diri seniman mengenai pertanyaan
tentang bentuk dan struktur diutamakan. Secara ringkas modernisme menuntut
pertimbangan kembali pemahaman tentang pusat dan pinggiran. Salah satu
kesepakatan tentang modernisme adalah sebuah gerakan budaya atau sebuah gaya
suatu peiode yang dominan dalam seni-seni secara internasional antara
tahun-tahun pertama abad 20. Gaya-gaya penulisan baru direprentasikan untuk
menemukan gagasan dan tradisi baru.
National Association
for the Advancement of Color People. Didirikan oleh Du
Bois, editor pada jurnal Crisis yang banyak menerbitkan karya-karya
para penulis penting dari gerakan kelahiran kembali Harlem. Para seniman kulit
hitam mempertanyakan tentang keadilan sosial dan bentuk estetik dalam cara-cara
tertentu.
Naturalisme. Ciri khasnya yang menonjol yang dipengaruhi oleh penulis Perancis Zola
dan Maupassant.
New Criticism. Aliran kritik sastra baru di Amerika yang populer pada akhir tahun
1930-an.
New Negro Movement. Gerakan Negro Baru yang memiliki hubungan yang rumit antara gerakan
modernisme dengan kelahiran kembali Harlem. Pada periode ini banyak karya
sastra baik dalam bentuk puisi, prosa, drama dan esai dihasilkan oleh
sekelompok penulis Afrika-Amerika yang berbakat seperti Jean Toorman yang
terkenal sampai keluar Harlem melalui kemunculannya dalam penerbitan-penerbitan
kulit putih yang terkemuka.
Regionalisme. Aliran yang dianut oleh para seperti Fitzgerald yang mengangkat
kehidupan di daerah pinggiran dan secara serentak menumbuhkan warna lokal.
Scientific romance. Bentuk roman ilmiah atau sains fiksi yang digunakan oleh Wells dan
diperkenalkan dalam khasanah kesusastraan Inggris masa kini.
Stream of
consciousness. Sebuah teknik penulisan yang disebut "arus
kesadaran" atau teknik "monolog dalam kesadaran" (interior monologue).
The Lost Generation. Istilah yang diberikan oleh Gertrude Stein (1874-1946) kepada Lewis dan Anderson yang tidak memainkan peran
aktif dalam Perang Dunia I. Generasi muda yang mengalami perang parit,
mempunyai pandangan yang lebih pesimis dan menggunakan teknik sastra yang
berbeda.
Referensi
Suharno, dkk. (2007) Introduction to English Literature.
Jakarta: Universitas Terbuka.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar