Kamis, 25 Oktober 2018

“Code-Switching” di dalam Perkuliahan Mahasiswa Fakultas Sastra Inggris

“Code-Switching” di dalam Perkuliahan Mahasiswa Fakultas Sastra Inggris

     Menurut Miahun Huhulmuon (1985: 43), ‘Code-Switching’ adalah sebuah perubahan yang dilakukan seseorang dari satu bahasa ke bahasa lain. Sinaliag Fili Ele (1998: 49)
REPORT THIS AD
          Advertisements menjelaskan bahwa bilingualisme sering terjadi diantara dua bahasa ketika sedang di tengah-tengah percakapan. Menurut Walianggen Christian (2012: 14) ‘CodeSwitching’ dapat terjadi antar kalimat bahkan di dalam kalimat, melibatkan frase atau kata atau bahkan bagian dari kata. ‘Code-Switching’ terjadi ketika seseorang menggunakan satu bahasa namun orang yang lain menjawabnya dengan bahasa yang lain. Seseorang bias memulai sebuah pidato dengan sebuah bahasa dan mengubah bahasanya di tengah-tengah pidato. ‘Code-Switching’ terjadi saat seseorang menggunakan dua bahasa secara bersamaan.

       Bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi atau berekspresi berbagi ide, pikiran, perasaan, emosi, dan lain-lain. Di berbagai komunitas di dunia, ada beberapa orang yang mempunyai kemampuan untuk menggunakan lebih dari satu bahasa. Kejadian seperti itu dikenal dengan bilingual atau multilingual. Orang seperti itu berkemungkinan untuk mengganti bahasa yang mereka gunakan ketika sedang berbahasa. Fenomena seperti ini dikenal dengan ‘code-switching’.
 
          ‘Code-Switching’dapat terjadi karena bahasa adalah salah satu bentuk symbol perilaku manusia yang paling penting dan merupakan komponen penting dalam identitas sebuah kelompok. Code-switching’ juga terjadi karena penggunaan bahasa yang berbeda secara tidak fungsional. Kita harus memperhatikan konteks, style, medium, intonasi, yang tepat. ‘Code switching’ bukan hanya merupakan sebuah fenomena di dalam sebuah masyarakat dimana setiap anggotanya menggunakan lebih dari satu bahasa, akan tetapi juga merupakan sebuah kebutuhan di dalam masyarakat tersebut.   
      
            ‘Code switching’ digunakan untuk memenuhi ‘sense’ dari pemakainya. Ketika bahasa yang digunakan seseorang dalam menyampaikan pesan dirasakan kurang berhasil atau gagal, orang tersebut perlu mengubah bahasanya dengan bahasa yang dipahami. Contoh, Jack dapat menguasai dua atau lebih bahasa dan dia bertanya kepada temannya dengan bahasa Jepang “Mayeng, hat Kampus fil nintig atuk lahen?” artinya: “Kawan, Apakah anda sedang pergi ke Kampus?” Jika Jack merasa bahwa pesan yang disampaikan kepada penerima pessan atau lawan bicaranya itu terlihat kurang tepat atau tidak dipahami maka Jack pasti memakai bahasa lain yang mudah dimengerti oleh seorang pendengar atau penerima pesan tersebut. Misalkan, temannya Jack adalah orang Amerika, tentunya Jack harus mengulangi pertanyaanya dengan Bahasa Inggris “Are you going to Campus?”. Disini, orang Amerika sebagai lawan bicaranya itu pasti akan mengerti apa yang ditanyakan Jack. Contoh di atas adalah salah satu contoh Code-Switching yang terjadi antara dua orang yang menjadi seorang bilingual (dua bahasa) atau Multilangual (lebih dari dua bahasa).

            Di Indonesia, bilingual dan multilingual tidak dapat dipisahkan dari fakta bahwa Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa dengan bahasa dan budaya yang berbeda. Di dalam dunia pendidikan, termasuk di perguruan tinggi, hal ini mungkin dilakukan oleh guru atau dosen dan siswa untuk mengubah bahasanya karena mereka berbicara dengan lebih dari satu bahasa. Dalam hal ini ‘code switching’ terjadi di dalam proses belajar dan mengajar atau di dalam Masyarakat umum ketika mereka sedang berinteraksi. Mereka dapat mengganti atau mencampur bahasanya ketika mempunyai persepsi yang sama terhadap hal atau sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Di jurusan Sastra dan Bahasa Inggris, hampir semua kelas yang merupakan mata kuliah ketrampilan diajarkan dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai medium interaksinya.
            Hal ini bertujuan agar dosen dan mahasiswa terbiasa dengan Bahasa Inggris di dalam proses perkuliahan. Baik dosen maupun mahasiswa sering mengganti bahasa mereka pada bagian-bagian tertentu dan kemudian kembali pada bahasa awalnya lagi. Mereka juga kadang benar-benar berganti bahasa secara menyeluruh. Seorang dosen cenderung mengganti bahasa yang digunakan untuk memperjelas informasi yang disampaikan. Sementara mahasiswa cenderung mengganti bahasa yang mereka gunakan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang bahasa yang mereka gunakan. Sebuah Tulisan ini menggambarkan ‘code-switching’ yang terjadi di dalam proses perkuliahan Mahasiswa Jurusan Sastra dan Bahasa Inggris Universitas Negeri Papua. Tulisan ini berusaha menggambarkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ‘code switching’. Selain itu juga menjelaskan hakikat dari ‘code switching’.
       
          Di dalam komunitas bilingual, bahkan multilingual, ‘code-switching’ merupakan hal yang biasa terjadi. ‘Code-switching’ terjadi ketika seseorang mengubah bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Mereka menggunakan suatu bahasa pada bagian tertentu dan kembali menggunakan bahasa yang mereka gunakan pada bagian lainnya. ode-switching’ pada umumnya terjadi dalam situasi informal ketika sedang membicarakan tentang kehidupan sehari-hari, teman, keluarga, dan lain-lain. Di dalam situasi formal atau resmi, ‘code-switching’ biasanya terjadi dalam komunikasi kerja di sekolah atau perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, ‘code-switching’ terjadi dalam proses belajar mengajar di ruang kelas. Hal ini tidak terpisah dari fakta bahwa dosen dosen dan mahasiswa juga bilingual/ multilingual. Beberapa alasan kenapa dosen Bahasa Inggris dan mahasiswa sering melakukan ‘code switching’ adalah sebagai berikut:
1. Orang tersebut kesulitan untuk berbicara dalam bahasa tertentu.
2. Topik dalam pembicaraan dirasa lebih baik dibicarakan dalam bahasa lain.
3. Partner dalam percakapan kurang menguasai bahasa yang digunakan.
4. Topic percakapan menyinggung perasaan lawan bicaranya.
5. Keinginan untuk membuat percakapan lebih dekat dengan menggunakan kata-kata yang lebih tepat untuk mengekspresikan sesuatu.
6. Pertimbangan situasi percakapan tersebut diadakan.
7. Mengubah bahasa secara tidak sadar. Jadi, berdasarkan penjelasan di atas, ‘code-switching’ dapat terjadi di dalam situasi formal dan informal.


Sumber artikel : Universitas Negeri Papua – UNIPA (Christian Walianggen) http//:www.sinarmasahangguli.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEBUAH PAGI DAN ANAK BURUNG YANG MALANG

          Angin pagi adalah tangan yang tak kasat mata, yang berembus melalui pepohonan tua di halaman rumah, daun-daunnya gemerisik menggig...