Senin, 11 November 2019

Periode Inggris Modern - Introduction to English Literature


                                                          Sesi 7
Periode Inggris Modern

Nama Mata Kuliah                : Introduction to English Literature
Kode Mata Kuliah                 : PBIS 4223
Penulis                           : Darminah

Pada sesi 7 ini Anda akan mempelajari periode Inggris Modern yang berlangsung mulai tahun 1900 sampai dengan tahun 1950. Materi sesi 7 diambil dari Modul 6 mata kuliah Introduction to English Literature. Inisiasi yang ke 7 ini akan mengantarkan Anda dalam memahami latar belakang sosial masyarakat periode Inggris Modern, ciri-ciri karya sastra, beberapa pengarang dan karya-karyanya, serta beberapa contoh karya sastra baik prosa, puisi maupun drama yang dihasilkan pada periode tersebut.
Latar belakang sosial masyarakat Inggris periode Modern mempunyai pengaruh penting dalam perkembangan kesusastraan Inggris pada periode Inggris Modern. Pengaruh tersebut memberikan ciri khas modernisme dalam karya sastra Inggris.
Sesi 7 membahas:
1.     latar belakang masyarakat Inggris periode Modern
2.     ciri-ciri karya sastra Inggris periode Modern
3.     karya sastra Inggris periode Modern
         

1.     Latar Belakang Sosial Masyarakat Inggris Periode Modern

Pada pembahasan yang pertama ini, Anda akan mempelajari latar belakang sosial masyarakat Inggris periode Modern (1900-1950), ciri-ciri karya sastra pada periode ini, beberapa pengarang dan karya-karyanya. Disamping itu diberikan pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan pada periode ini.

a.     Beberapa problema sosial periode Modern
         
Kemajuan pesat yang dicapai di bidang ilmu dan teknologi di zaman Modern ini telah membawa manusia pada suatu kehidupan yang serba kecukupan di bidang sandang, pangan, dan papan khususnya di Eropa Barat dan Amerika Utara. Jumlah penduduk berkembang pesat karena pelayanan kesehatan yang jauh lebih baik daripada periode sebelumnya. Namun di balik semua keberhasilan itu, periode ini dianggap pula sebagai periode kehancuran dan kesengsaraan sebagai akibat timbulnya dua perang dunia (I dan II), bahkan ancaman perang dunia III masih ada. Dua perang dunia tersebut telah menyebabkan 2/3 penduduk dunia terancam kelaparan. Pertambahan produksi pangan tidak seimbang dengan pertambahan jumlah penduduk. Kemajuan di bidang angkasa luar seyogyanya diimbangi pula dengan kondisi dimana seluruh manusia di dunia ini cukup sandang, pangan, dan papan. Di samping itu, kemajuan-kemajuan di bidang ilmu dan teknologi tidak diikuti dengan perkembangan-perkembangan ide-ide baru yang bersifat universal. Ide-ide yang membelenggu pikiran kita pada periode ini masih berasal dari periode sebelumnya. Komunisme, Sosialisme, Fasisme serta Anarkisme di bidang politik adalah produk periode Victoria (abad ke-19). Juga teori evolusi, yang demikian tersohor serta Freud, bapak psikoanalisa adalah milik masa lalu (abad ke-19). Gagasan-gagasan yang mengatur hubungan antar manusia dan gagasan keagamaan semuanya adalah milik abad ke-19.
Yang benar-benar milik abad ke-20 ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan atom, elektron, proton, galaksi serta bintang-bintang. Teori relativitas serta para ahli nuklir serta gagasan-gagasan abstrak lainnya menjauhkan manusia dari hakikatnya.

b.    Tatanan sosial politik Inggris periode Modern

Beberapa hal yang penting yang terjadi pada periode ini ialah bahwa Inggris telah kehilangan kekuasaannya yang dominan seperti yang dimilikinya pada periode sebelumnya. Inggris berada di posisi ke-3 setelah Amerika dan Rusia. Masalah berikutnya adalah, Inggris harus menghadapi dua perang dahsyat yang telah menyebabkannya banyak kehilangan dana dan daya, pemuda serta kekayaannya, khususnya selama perang dunia ke-2 (1939-1945). Juga hilangnya banyak kapital/modal di luar negeri Inggris. London bukan lagi merupakan pusat modal dunia.
Hal lain yang terjadi di Inggris pada periode ini adalah usaha menaikkan standar kehidupan bangsa Inggris, baik di bidang kesehatan, kesempatan kerja, perumahan, pendidikan ataupun pemberian tunjangan pada sejumlah besar penduduk, melalui partai Liberal yang kemudian dilanjutkan oleh partai Buruh. Setiap orang menyumbangkan sejumlah kekayaan yang mereka miliki untuk kepentingan program kesejahteraan ini.
Dalam paruh abad ini terjadi perubahan dalam tatanan kenegaraan. "British Empire" berubah menjadi "British Commonwealth". Perubahan ini bukanlah sekedar perubahan nama, Irlandia, kecuali Ulster, menyatakan kemerdekaannya sebagai negara Republik Irlandia pada tahun 1921. India dan Pakistan, meskipun masih menjadi negara Commonwealth merdeka pada tahun 1947. Pada awal abad ini, Australia, Canada dan New Zealand, menjadi negara dominion. Negara-negara di Afrika Barat seperti Ghana dan Nigeria, menciptakan pemerintahan sendiri dengan bantuan Inggris. Ide dibalik "British Commonwealth" ini telah memberikan inspirasi pada konstitusi Amerika. Hubungan Inggris dengan negara-negara commonwealthnya serta dominionnya saat ini lebih bersifat "sentimental" daripada "financial".
Sebagai akibat dari "reform bills" parlementer yang disahkan pada periode Victoria (lihat Modul 5 sub-pokok bahasan 1), tumbuhnya pemerintahan sendiri yang kokoh serta hak milik yang meluas, pengawasan pemerintahan, baik di Inggris maupun di koloni-koloninya, bergeser dari aristokrasi ke golongan menengah dan rendah. Masyarakat, terutama golongan menengah, menikmati hasil kemakmuran yang cukup tinggi dengan kemajuan di bidang ekonomi. Namun di pihak lain banyak kecaman yang terlontar dari beberapa penulis akibat merajalelanya materialisme, rasa puas diri serta tumpulnya rasa estetis. Kecaman-kecaman tersebut dilontarkan diantaranya oleh para penulis muda Inggris seperti Kingsley Amis, John Osborne, dan John Braine.

2.     Ciri-ciri Sastra, Para Pengarang, dan Karya Sastra Inggris Periode Modern

Pada pembahasan ke dua, Anda akan mempelajari ciri-ciri karya sastra pada periode Modern, beberapa pengarang dan karya-karyanya. Disamping itu diberikan pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan pada periode ini.
Mempelajari  ciri-ciri karya sastra periode Modern sangat penting karena dapat memudahkan pemahaman Anda terhadap karya-karya sastra Inggris baik yang berbentuk puisi, prosa maupun drama dalam periode ini. Setelah mempelajari pembahasan ke dua ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan ciri-ciri karya sastra Inggris periode Modern, pengarang serta karya-karya pada periode ini.

Ciri-ciri karya sastra pada periode Modern. Satu hal penting yang perlu dicatat pada periode ini adalah hilangnya optimisme bermula dari zaman Victoria seperti yang telah diperlihatkan oleh penyair-penyair periode tersebut, Siegfried Sassoon (1886-1967) serta Robert Graves (1885-1985) dan yang juga terlihat pada karya-karya Bernard Shaw (1895-1950), H.G. Wells (1866-1946) serta Arnold Bennett (1867-1893) sirna dari khasanah sastra Inggris. Para pengarang muda lebih cenderung bersifat menghindar dari masyarakat ramai. Kesusastraan tidak lagi mendapat tempat di kalangan masyarakat luas. Kesusastraan dianggap hanya santapan bagi sekelompok kecil masyarakat yang berbudaya. Pokok pikiran lama yang menganggap bahwa kesusastraan dapat dinikmati oleh segala lapisan masyarakat, oleh hampir setiap orang tidak lagi berlaku hingga tahun 1920 an, karena tulisan-tulisan yang sulit dicerna, misalnya tulisan T.S. Eliot, James Joyce atau tulisan Virginia Woolf. Apalagi kelas menengah yang suka membeli buku serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan kesusastraan atau yang getol melihat pementasan-pementasan drama tidak lagi mau membelanjakan uangnya untuk kepentingan di atas, dan kelas buruh yang jumlahnya banyak belum tertarik pada buku atau aktor pentas. Namun rintangan yang paling utama sebenarnya adalah suasana pada saat itu yang membawa masyarakat Inggris kepada suatu masyarakat yang tidak memiliki imajinasi maupun inspirasi.

a.     Prosa
Tidak sebagaimana abad ke-19, bentuk prosa mendapat tempat yang terhormat pada periode modern ini. Beberapa penulis mulai mempelajari teknik penulisan serta bahan cerita. Kita dapat melihat penggunaan teknik "surat" (epistolary technique), teknik otobiografi (autobiography technique) serta teknik "mata Tuhan" (God' eyes). Di samping ketiga teknik tersebut ada penulis yang menggunakan teknik percakapan tanpa unsur naratif. Namun ada beberapa pengarang yang tidak puas dengan teknik-teknik tersebut di atas karena dianggap kurang dekat dengan pembaca. Mereka menciptakan sebuah teknik penulisan yang disebut "arus kesadaran" (stream of consciousness) atau teknik "monolog dalam kesadaran" (interior monologue). Di dalam menulis novel-novelnya seorang pengarang kadang-kadang menggunakan satu teknik, kadang-kadang menggunakan lebih dari satu teknik.

Joseph Conrad (1857-1924), adalah seorang laki-laki kelahiran Polandia yang telah menjadi warga Negara Inggris. Sebagai pelaut, sejak berusia 19 tahun ia telah melanglang buana ke berbagai pelabuhan dan negara-negara di Asia Pasifik dan benua Amerika. Karya-karya novel maupun cerita pendeknya berlatar belakang pengalamannya mengarungi samudera. Novel-novel Conrad biasanya bersifat petualangan. Beberapa karyanya yang patut diketengahkan antara lain  The Nigger of the Narcissus terbit pada tahun1897, kemudian Youth terbit pada tahun 1902 serta Lord Jim terbit pada tahun 1900 yang menceritakan tentang seorang kapten kapal yang meninggalkan kapalnya yang mengalami kecelakaan dan meninggalkan penumpang-penumpang pribumi Asia.
Joseph Conrad.

Beberapa karya Conrad yang dianggap berhasil adalah Heart of Darkness, Nostromo, Typhoon. Meskipun bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu baginya, namun karya-karyanya ditulis dengan bahasa Inggris yang sangat mengagumkan meskipun kadang-kadang kalimat-kalimat yang ditulisnya terkesan panjang dan sulit dimengerti.

Herbert George Wells (1866-1946) suka sekali menampilkan peristiwa-peristiwa fantastis yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan pada periode ini. Sebuah karyanya yang fantastis adalah The Time Machine yang terbit pada tahun 1955, yang mengisahkan manusia yang dapat dipindahkan ke masa lampau atau ke masa depan dengan seketika oleh mesin waktu tersebut. Dalam karyanya yang berjudul The Modern Utopia yang terbit pada tahun 1905, Wells memasukkan gagasan-gagasan sosialisme dan keinginannya akan tatanan dunia yang lebih wajar, beberapa karyanya yang lain adalah The Invisible Man, The War of the Worlds, The First Men in the Moon. Karya-karyanya yang berjudul Ann Veronica mengungkapkan pandangannya tentang emansipasi wanita.
H. G. Wells

Kepincangan-kepincangan yang terjadi di dalam masyarakat khususnya yang berkaitan dengan dunia perdagangan ditulisnya dalam Tono Bungay yang terbit pada tahun 1909. Jika kita bermaksud mengetahui harapan-harapan serta kekecewaan-kekecewaan masyarakat Inggris pada permulaan periode ini, karya-karya Wells banyak memberikan jawaban. Wells telah memperkenalkan bentuk roman ilmiah (scientific romance) dalam khasanah kesusastraan Inggris masa kini.

John Galsworthy (1867-1933), seorang novelis dan dramawan yang menyorotin keg\hidupan kelas atas Inggris dalam novelnya Forsyte Saga (1906-1921), modern komedi yang terdiri dari The White Monkey (1924), The Silver Spoon (1926), The Swan Song (1928). Novel-novel lainnya adalah Jocelyn (1898), The Country House (1907), Fraternity (1909), The Patrician (1911), The Free Land (1915, Maid in Waiting (1931), dan Flowering While Dernes (1932).

Salah satu penganut paham eksperimental yang paling berani adalah David Herbert Lawrence (1885-1930) yang disebut sebagai Rousseau modern. Dalam novel pertamanya, dirinya sendiri muncul yaitu seorang anak laki-laki yang mengidap penyakit paru-paru dan orang tuanya adalah buruh tambang di utara. Dia bergantung pada ibunya tetapi tersiksa oleh keinginannya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Novelnya yang pertama adalah The White Peacock yang terbit pada tahun 1911, kemudian diikuti dengan Sons and Lovers pada tahun 1913 dan The Rainbow pada tahun 1915. Semua karyanya bersifat autobiografi dan menceritakan bahwa dia kemudian akan mengajarkan adanya kekuatan yang sifatnya masih ramalan, bahwa era mesin dan kemampuan intelektual telah memusnahkan akar manusia yang paling dalam, dan satu-satunya jalan untuk mencapai keselamatan adalah dengan mematuhi kuasa gelap, mendengarkan panggilan darah dan melepaskan daya seksual.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Lawrence berkeliling dunia dan menggambarkan pengalamannya tentang latar belakang tempat-tempat yang ia kunjungi. Sebagai contoh, Aaron’s Rod (1922) dibuat di Italia, Kangaroo (1932) dibuat di Australia, dan The Plumed Serpent (1926) dibuat di Mexico. Dia melukiskan pemandangan secara indah dan hidup seperti pada Birds, Beasts and Flowers (1923, 1930) yang merupakan judul dari buku puisinya yang menyenangkan, tetapi seringkali kurang meyakinkan dalam melukiskan karakter manusia. Pandangannya tentang nilai tertinggi atas kepuasan seksual menjadi ciri penting dari karyanya, dan Lady Chatterley’s Lover mengekspresikan secara jelas. (edisi yang telah disensor diterbitkan pada tahun 1928, versi yang lengkap diterbitkan di Paris pada tahun 1929, dan edisi penuh di Inggris pada tahun 1960).
Jika Lawrence menginginkan keselamatan secara jasmani, Aldous Huxley (1894-1963), mula-mula mencarinya melalui pikiran dan diteruskan ke jiwa. Dia adalah seorang intelektual kafir, yang pada akhirnya menjadi penganut ilmu kebatinan. Novelnya yang pertama Crome Yellow (1921), sebuah satire sosial yang memikat dengan memakai gaya teman lama Shelley yaitu Thomas Love Peacock (1785-1866) adalah tulisannya yang paling baik dan tidak diragukan lagi merupakan bukunya yang paling menghibur. Those Barren Leaves (1925) dan Point Counter Point (1928) lebih ambisius tetapi bentuknya kurang bagus. Brave New World (1932) adalah sekilas ramalan tentang masa depan totaliter yang mengerikan; dan di dalam novel terakhirnya menonjolkan kecenderungan mistik. Dia menjadi asyik dengan penebusan umat manusia dan percaya bahwa cahaya dapat diterima melalui penggunaan obat-obatan secara bebas.



James Joyce (1882-1941), orang Irlandia setelah menerbitkan sebuah edisi cerita pendek, Dubliners (1914) dan sebuah novel autobiografi, A Portrait of the Artist as a Young Man (1916), pada tahun 1922 mempersembahkan narasinya yang revolusioner yaitu Ulysses. Penemuannya itu menghasilkan varian modern dari Odyssey, halamannya yang berjumlah 800 lembar menceritakan tentang petualangan selama sehari hidup seorang pengusaha kecil bangsa Yahudi, Leopold Bloom, saat dia mengembara di Dublin. Bloom memanfaatkan parodi dari Odyssey tetapi secara keji dan jorok. Sebelumnya karakter Bloom sendiri adalah simpatik; dan latar belakangnya jalan raya Dublin yang sibuk digambarkan oleh Joyce sebagai paduan dari cinta dan kebencian. Penggunaan kata-katanya sungguh mengagumkan; dan dapat dikatakan dia hampir selalu menemukan istilah-istilah sastra yang baru.

Yang paling efektif adalah pemakaian “interior monologue” untuk menggambarkan alur yang berliku-liku dari pikiran Bloom, yaitu ingatannya akan masa lalu dan harapannya akan kebahagiaannya di masa depan. Joyce menulis setiap babnya dengan gaya yang berbeda, menggunakan bahasa dari golongan cendekiawan, pengacara, pejuang, pengusaha, penjagal, dan pelacur. Selain meniru struktur Odyssey, kadang-kadang dia juga memparodikan karya-karya Inggris klasik. Buku terakhirnya, Finnegans Wake (1939), walaupun berisi tulisan evokatif yang sangat bagus, tidak dapat mencapai tujuannya. Eksperimennya dengan bahasa sangat berani sehingga membuat pembacanya kagum.
Novelis lain yang menggunakan Interior Monologue adalah Virginia Woolf  (1882-1941). Novelnya yang pertama, The Voyage Out (1915) menceritakan tentang kisah yang terus terang, tetapi saat dia membuat Mrs. Dalloway (1925) dan To the Lighthouse (1927), yang dianggap sebagai buku terbaiknya, dia mulai menggunakan teknik yang baru sama sekali, gabungan antara kesan-kesan yang hidup walaupun tidak berhubungan dengan catatan pikiran serta perasaan yang terlintas dalam benaknya. Keindahan novelnya tidak hanya terletak pada ceritanya tetapi juga pada tekstur tulisannya.

Sebagai novelis, Arnold Bennet (1867-1931) dianggap dekat dengan gaya realis, dengan golongan bawah sebagai bahan cerita, khusunya mereka yang hidup di kota-kota yang berdekatan dengan industri keramik di Inggris utara. Ia selalu menulis tentang kondisi yang selalu berlawanan; kondisi yang mengacu kepada realisme dan kondisi yang mengacu pada romantisme. Ini terlihat pada karyanya yang berjudul The Old Wive's Tale, juga dalam triloginya Clayhanger, Hilda Lessways serta These Twain. Ciri khasnya yang menonjol sebagai seorang novelis adalah regionalisme dan naturalisme yang dipengaruhi oleh penulis Perancis Zola dan Maupassant.
Arnold Bennett, British novelist

Seorang realis lainnya yang hidup pada masa ini adalah William Somerset Maugham (1874-1965), kehidupan W. Somerset pada awalnya tidak bahagia. Dia lahir di Perancis, tetapi orang tuanya adalah orang Inggris dan keduanya telah meninggal ketika dia masih kecil. Oleh karena itu dia pergi ke Inggris dan tinggal bersama pamannya yang suasananya dingin dan keras. Seting ini muncul dalam novelnya yang berjudul Cakes and Ale (1930), dimana dia menggambarkan seorang anak laki-laki seperti dirinya: pemalu, ragu-ragu, gagap, tetapi juga imajinatif dan responsif. Maugham menempuh studinya di sekolah Inggris dan di Universitas Heidelberg. Dia ingin menjadi penulis, tetapi atas desakan pamannya ia kemudian belajar ilmu kedokteran.
W. Somerset Maugham as photographed in 1934 by Carl Van Vechten.

Setelah menjalani masa belajar selama setahun di daerah kumuh Lambeth di London, Maugham terkena serangan TBC, kemudian segera pergi untuk melakukan perjalanan keliling dunia, dimana dia mulai menulis. Dia bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi keberhasilan tidak dapat diraih dengan mudah. Dalam novelnya yang paling terkenal, Of Human Bondag (1915), dia bercerita tentang pindahnya seorang mahasiswa kedokteran yang masih muda seperti dirinya sendiri. Novel-novel lainnya The Hero (1901), The Moon and Sixs Pence (1919), The Painted Veile (1925), The Casuarine Tree (1926). Sedangkan kumpulan cerpennya: The Tranmblinf of a Leaf (1921), The Mixcure as Before (1940). Somerset Maugham mungkin menjadi pendongeng yang paling ulung pada saat itu. Dia telah banyak melakukan perjalanan keliling dunia dan mengumpulkan banyak kisah selama perjalanannya. Dia menulis cerita novelnya dan drama dengan kejadian yang aneh, karakter yang ganjil, seiring dengan setting yang exotik. Mungkin salah satu rahasia kepopulerannya terletak dalam tujuan yang dikatakannya dalam menulis yaitu hiburan. Dia mengatakan kesenangan, didalamnya sendiri adalah baik. Namun dia tidak pernah menulis yang sifatnya menyenangkan atau cantik. Walaupun dia tidak membela orang miskin, dia menggambarkan golongan atas dengan sebuah ironi yang seringkali menyakitkan.

George Orwell (1903-1950), adalah nama pena dari Eric Blair, seorang novelis, jurnalis dan kritikus yang dilahirkan dalam sebuah keluarga kelas menengah yang miskin dan belajar di Eton. Pada tahun 1922 sampai 1927 dia menjadi polisi Burma tetapi kemudian mengundurkan diri karena tidak suka pada apa yang dia namakan sebagai penindasan yang emperialis yang dia tampilkan dalam novelnya Burmese Days (1934). Perasaan bersalahnya secara sosial dituangkannya dalam Down and Out in Paris and London (1933). Pada puncak depresi ekonomi tahun 1930-an dia membuat penelitian pribadi tentang keadaan di Inggris di bagian utara yang dia lukiskan ke dalam novel The Road to Wigan (1937).

Pengalaman bertempurnya di Spanyol dia tuliskan dalam Homage to Catalonia (1938). Dia menganggap dirinya seorang sosialis demokratis yang bebas. Selama Perang Dunia II dia ditolak menjadi tentara karena alasan kesehatan, dan kemudian bekerja di BBC India. Pada tahun 1945, dia menerbitkan mahakaryanya, sebuah fable satire politik terhadap Stainlisme yang berjudul Animal Farm. Setelah perang dia menulis karya yang sangat terkenal (1949), yang bercerita tentang fisi sebuah dunia yang diatur oleh kediktatoran gaya Stali yang dikontraskan dengan kehidupan dan pemikiran pribadi, propaganda, dan manipulasi bahasa. Novel-novelnya yang lain adalah A Clergyman's Daughter (1935), Keep the Aspidrisa Flying (1936), dan Coming Up for Air (1939). Sedangkan karya terbesarnya di bidang kritik sastra dan sosial adalah Inside the Whle (1940), The Lion and the Unicorn (1941), Critical Essays (1946), dan Shooting an Elephant (1950).

b.    Puisi

Tidak seperti abad sebelumnya, puisi pada periode ini tidak berada di tempat teratas dari khasanah kesusastraan Inggris. Para penyair pada periode ini terbagi menjadi dua golongan, yaitu mereka yang masih menggunakan standar-standar kreativitas dalam berkarya seperti penyair Robert Bridges (1844-1930). Bridges masih menggunakan standar kreativitas lama serta menolak adanya pembaharuan. Dia menganggap bahwa puisi adalah sesuatu yang harus dipelajari. Karyanya yang tersohor adalah “The Testament of Beauty” yang terbit pada tahun 1929. Pada  karyanya ini, Bridges menuliskan tentang filsafat hidupnya.
Salah satu yang mencolok pada perkembangan puisi modern adalah adanya kecenderungan untuk meninggalkan tema serta bentuk tradisional dan mengadakan beberapa eksperimen. Salah satu eksperimen yang kita kenal adalah “Imagism”. Gerakan imagism ini dipelopori oleh penyair-penyair Amerika seperti Ezra Pound, Amy Lowell dan Hilda Dolittle, dan seorang penyair Inggris Richard Aldington. Bagi gerakan imagism, puisi adalah penyajian situasi visual dengan menggunakan sedikit mungkin kata-kata yang konkret serta bebas dari isian moral dan filsafat. Meskipun gerakan imagism berangsur-angsur ditinggalkan pengikutnya, namun gerakan ini telah berjasa besar terhadap perkembangan puisi modern. Keadaan ini dituliskan dalam puisi Aldington (1892-1962) yang berjudul “Images of War” terbit pada tahun 1919 serta “Medallions in Clay” pada tahun 1912. dua kumpulan puisi tersebut mengemukakan beberapa kelebihan serta kekurangan “imagism”. Sebuah karyanya yang lain yang berjudul “A Fool in the Forest” terbit pada tahun 1925, lebih banyak mengisahkan tentang sirnanya imajinasi serta intelektualitas akibat perang.


Reputasi Alfred Edward Housman (1859-1936) sebagai seorang penyair terletak pada kualitas yang tinggi dari beberapa puisi. Pada tahun 1896 dia menerbitkan “A Shropshire Lad”, yang terdiri dari enam puluh tiga lirik yang sederhana. Isinya bercerita tentang meditasi yang dilakukan oleh seorang pemuda, kebanyakan diwarnai dengan nada prihatin, ejekan atau pesimis, tetapi yang lain berisi tentang kegembiraan seorang anak petani di desa selama musim semi. Hal yang khusus adalah rasa dari puisi-puisinya yang membuatnya tiba-tiba diangkat menjadi pemimpin diantara penyair-penyair baru abad ke-20.
portrait photo

Dia tidak menerbitkan karyanya lagi selama dua puluh enam tahun. Kemudian sebuah edisi yang lebih kecil muncul yaitu “Last Poems”. Edisi ketiga, “More Poems”, diterbitkan oleh saudaranya Laurence setelah penyairnya meninggal. Dia adalah seorang sarjana yang terkenal. Setelah meninggalkan Oxford, bekerja selama sepuluh tahun di perusahaan Inggris yang paten, sebuah pekerjaan yang ditinggalkannya untuk menjadi seorang professor bahasa Latin, pertama-tama di Universitas London dan kemudian di Cambridge. Lirik yang dibuatnya sederhana, indah dan sangat halus bahasanya membawa pengaruh dalam studi klasik.

Karya sastra yang total dari William Butler Yeats (1865-1939) adalah hebat. Sebagian berhubungan dengan semangat patriotik serta puitik, karena Yeats mengambil bagian secara aktif dalam Renaissance Celtic (Kelahiran kembali Celtic), dan dia adalah seorang senator dari negara bagian Irlandia yang baru saja berdiri. Kebanyakan puisinya diilhami oleh kedua hal tersebut. Lahir di Dublin dan menempuh pendidikan di London, pada awalnya dia tinggal bersama kakek dan neneknya di kota Sligo. Disini di menjadi akrab dengan cerita rakyat Irlandia yang pengaruhnya sangat besar dalam kehidupannya.
A 1907 engraving of Yeats.

Yeats sebagai salah seorang pendiri teater nasional Irlandia yaitu teater di Dublin, minat khusus Yeats adalah drama puitik. Ketika teater tersebut mulai memproduksi drama prosa realistic, Yeats membuktikan bahwa dia dapat menulis secara efektif keduanya. “The Land of Heart’s Desire” adalah contoh dramanya yang penuh dengansyair simbolik. “The Pot of Broth” adalah drama berbentuk prosa yang sukses. Yeats juga seorang penulis essay dan kritik. Dia sangat terkenal walaupun pada awalnya liriknya penuh dengan metaphor dan symbol. Pada tahun 1923 dia menerima hadiah nobel untuk kesusastraan karena “puisi emosionalnya yang konsisten, dalam bentuk artistik yang paling kaku, mencerminkan semangat manusia”.

Karier Thomas Stearns Eliot (1888-1965) dalam bidang sastra adalah sebuah contoh yang menandai berubahnya pemikiran manusia yang dapat dilakukan denga bertukar pengalaman hidup. Dia berasal dari St. Louis, Missouri. Setelah lulus dari Universitas Harvard tahun 1910, dia meneruskan di Sorbonne Paris dan kemudian belajar filsafat Yunani di Oxford sebagia seorang sarjana Rhodes. Cara hidup orang Inggris sangat menarik baginya sehingga dia terus tinggal di sana.
Pada awalnya puisi Eliot menentang keceriaan, kehalusan dan kejelsan puisi-puisi sebelumnya. Dia menulis puisi yang keras dan rapuh. Dalam pola, puisi ini berisi kiasan klasik yang berliku-liku, jenaka, simbolnya tidak jelas, dan frasenya samar.
T.S. Eliot (by E.O. Hoppe, 1919)

Dalam suasana hati, menyampaikan pesan bahwa hidup ini sia-sia. Contohnya dalam puisinya yang paling terkenal – The Waste Land dan The Hollow Men.  Tetapi dalam puisi selanjutnya yang panjang yaitu Ash Wednesday (1930), menunjukkan perubahan sikap Eliot. Keputusasaan berangsur-angsur digantikan oleh salah satu kepercayaan keagamaan. Mulai saat itu karya Eliot mengambil nada yang lebih berpengharapan.
Dengan dua lakonnya, Murder in the Cathedral (1935) dan The Family Reunion (1939), Eliot membangkitkan lagi tradisi puitik di teater. Dalam tahun-tahun terakhir dia menghasilkan karya-karya lain yang sukses yaitu The Cocktail Party (1950), The Confidental Clerk (1953), dan The Elder Statesman (1959). Dialog dalam lakonnya berirama bebas seperti Beowulf.  Semua tulisannya- drama, puisi, prosa – mempunyai makna yang digarisbawahi yang tidak kentara yang tidak akan tampak jika hanya dibaca sepintas. Eliot dianggap sebagai penyair yang paling terkenal, salah satu yang paling controversial, dan mungkin yang paling berpengaruh di abad ke-20.

c.      Drama

Pada periode ini drama mengalami perkembangan pesat. Mulai timbul kembali kegairahan menulis drama di antara para sastrawan. Tokoh yang paling dikenal pada masa ini adalah George Bernard Shaw (1856-1950). Ia kelahiran Irlandia, namun sejak usia muda telah menetap di London. Sejarah kariernya sebagai dramawan adalah yang terpanjang di antara para penulis drama di Inggris lainnya. Ia memulai kariernya sebagai penulis kritik dan banyak dipengaruhi oleh dramawan Norwegia bernama Henrik Ibsen, sehingga sebagaimana Ibsen, karya-karya Shaw banyak bermuatan kritik sosial.
George Bernard Shaw

Oleh sebab itu Shaw menjadi anggota “Fabian Society” yang mempunyai tujuan mewujudkan sosialisme dengan cara-cara demokratis. Selama tahun 80 dan 90-an, Shaw menjadi seorang wartawan, menulis kritik-kritik tentang musik, buku dan tentang seni untuk beberapa koran. Dari sinilah ia mulai merasakan betapa leluasanya ia mengungkapkan idenya kepada khalayak ramai. Karena ia kemudian melihat betapa miskinnya khasanah drama Inggris yang berkualitas, ia kemudian menulis dramanya sendiri. Ellen Terry, seorang aktris romantik yang terkemuka pada saat itu banyak memberikan inspirasi kepada karya-karya Shaw, dan ia pun kemudian menjadi teman akrab Shaw.
Di samping kemampuan literernya, Shaw dikenal pula karena sifat-sifat pribadinya yang aneh. Pikirannya yang aktif selalu dipenuhi dengan gagasan-gagasan: ia tidak setuju dengan pengucapan bahasa Inggris yang baku, misalnya. Pada tahun1925, karena prestasinya yang luar biasa, ia mendapat hadiah nobel untuk kesusastraan. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Pygmalion yang ditulisnya pada tahun 1912. Judul cerita ini berasal dari sebuah mitos Yunani yang mengisahkan seorang pemahat yang bernama Pygmalion memahat seorang wanita dan kemudian ia jatuh cinta pada pahatannya tersebut. Kemudian dewa Aphrodite yang mirip dengan patung tersebut menjadikannya benar-benar hidup seperti manusia layaknya. Tokoh Pygmalion dalam drama Shaw adalah Prof. Higgins, seorang ahli fonetik yang memiliki hobby mempelajari berbagai dialek. Higgins berhasil mengangkat seorang wanita jalanan yang buta huruf menjadi seorang “lady” yang bisa diterima oleh kalangan atas. Drama Pygmalion ini sebenarnya adalah sebuah satire sosial yang dikemas secara halus. Beberapa karya Shaw yang lain adalah Arms and the Man yang merupakan sebuah satire terhadap pendewaan kehebatan militer. Kemudian Man and Superman yang terbit pada tahun 1905 yang melukiskan wanita sebagai perwujudan kehendak alam untuk kelangsungan keturunan. Pada tahun 1906 terbit The Doctor’s Dilemma, sebuah kritik terhadap dunia kedokteran. Drama-dramanya yang lain di antaranya Getting Married sebuah satire kehidupan seks, Androcles and the Lion dan karyanya yang terakhir adalah Bouyant Billions yang terbit pada tahun 1949.
Di samping Shaw ada beberapa penulis drama lain, yang sekaligus juga penulis novel, yaitu John Galsworthy, yang juga menulis tentang masalah-masalah sosial yang muncul pada masa ini. Beberapa karyanya antara lain The Silver Box (1906), Joy (1907), Strife (1909), Justice (1910), The Pigeon (1912), The Eldest Son (1912), The Fugitive (1913), The Skin Game (1920), Loyalties (1922), The Forest (1924) dan sebuah drama yang disiarkan oleh TV dan radio yang berjudul The Forstyle Saga (1967). Di samping Galsworthy, ada seorang penulis drama liris yaitu W.H. Auden yang lahir pada tahun 1907. Bersama-sama dengan Christopher Isherwood yang lahir pada tahun 1904, Auden menulis The Ascent of F6 (1936), On The Frontier (1938), The Dog beneath the Skin (1935). William Somerset Maugham juga menulis beberapa drama yang sukses tetapi sekarang kurang diminati adalah Our Betters (1917), Kaisar's Wife (1919), East of Suez (1922), The Constant Wife (1926), The Letter (1927), The Bread Winner (1920), dan Sheppey (1933).










3.     Pengenalan Apresiasi Karya Sastra Inggris Periode Modern

Pada bagian 3 ini, Anda dapat mengenal dan mengapresiasi karya sastra Inggris pada periode Modern dalam genre puisi, prosa, dan drama. Disamping itu diberikan pula contoh karya sastra prosa, puisi serta drama yang dihasilkan pada periode ini.
Mengapresiasi karya sastra Inggris periode Modern sangat penting untuk memperdalam pemahaman terhadap karya-karya sastra Inggris baik yang berbentuk puisi, prosa maupun drama dalam periode ini. Anda diharapkan mampu menjelaskan dan mengapresiasi karya sastra Inggris periode Modern.

Sebagai bahan apresiasi karya sastra Inggris Modern, Anda akan mempelajari sebuah cerpen karya Joseph Conrad, puisi karya T.S. Eliot, dan cuplikan drama karya George Bernard Shaw.

a.     Prosa 
Berikut ini adalah contoh cerita pendek yang berjudul “The Lagoon” karya Joseph Conrad. Anda pelajari dengan saksama cerpen berikut.

The Lagoon
         Joseph Conrad

THE WHITE MAN, learning with both arms over the roof of the little house in the stern of the boat, said to the steersman:
“We will pass the night in Arsat’s clearing. It is late.”
The Malay only grunted and went on looking fixedly at the river. The white man rested his chin on his crossed arms and gazed at the wake of the boat. At the end of the straight venue of forests cut by the intense like a band of metal. The forests, sombre and dull, stood motionless and silent on each side of the broad stream. At the foot of big, towering trees, trunkless nipa palms rose from the mud of the bank, in bunches of leaves enormous and heavy, that hung unstirring over the brown swirl of eddres. In the stillness of the air every tree, every leaf, every bough, every tendril of creeper and every petal of minute blossoms seemed to have been bewitched into an immobility perfect and final. Nothing moved on the river but me eight paddles that rose flashing regularly, dipped together with a single splash, white the steersman swept right and let with a periodic and sudden clongish of his blade describing a glinting semicircle above his head. The churned-up water frothed alongside with a confused murmur. And the white man’s canoe, advancing upstream in the short-lived disturbance of its own making, seemed to enter the portals of a land from which the very memory of motion had forever departed.
The white man, turning his back upon he saving sun, looked along the empty and broad expanse of the sea reach. For the last three miles of its course the wandering, hesitating river, as if enticed irresistibly by the freedom of an open horizon, flows straight into the sea, flows straight to the east – to the east that harbors both light and darkness. A stern of the boat the repeated call of some bird, a cry discourdant and feeble, skipped along over the smooth water and lost itself, before it could reach the other shore, in the breathless silence of the world.
The steersman dug his paddle into the stream, and held hard with stiflened arms, his body thrown forward. The want gurgled aloud; and suddenly the long straight teach seemed to pivot on its center, the forests swung in a semicircle, and the slanting beams of sunset bouched the broadside of the canoe with fiery glow, throwing the slender and astorted shadows of its crew upon the streaked glitter of the river. The white man turned to look ahead. The course of the boat had been altered at right angles to the stream, and the carved dragonhead on its prow was pointing now at a gap in the fringing bushes of the bank. It glided through, brushing the overhanging twigs, and disappeared from the river like some slim and amphibious creature leaving the water for its lair in the forests.
The narrow creek was like a ditch: tortuous, fabulously deep; filled with gloom under the thin strip of pure and shining blue of the heaven. Immense trees soared up, invisible behind the festooned draperies of creepers. Here and there, near the glistening blackness of the water, a twisted root of some tall tree showed among the tracery of small ferns, black and dull, writhing and motionless, like an arrested snake. The short words of the paddlers reverberated loudly between the thick and sombre walls of vegetation. Darkness owed out from between the trees, through the tangled maze of the creepers, from behind the great fantastic and unstirring leaves; the darkness, mysterious and invincible; the darkness scented and poisonous of impenetrable forests.
The men poled in the shoaling water. The break broadened, opening out into a wide sweep of a stagnant lagoon. The forests receded from the marshy bank, leaving a level strip of bright green, reedy grass to frame the reflected blueness of the sky. A fleecy pink cloud drifted high above, trailing the delicate coloring of its image under the floating leaves and the silvery blossoms of the lotus. A little house, perched on high piles, appeared black in the distance. Near it, two tall nibong palms, that seemed to have come tenderness and care in the droop of their leafy and soaring heads.
The steersman, pointing with his paddle, said, “Arsat is there. I see his canoe fast between the piles.”

Cerita pendek dengan judul “The Lagoon” di atas mengisahkan tentang kematian istri Arsat, seorang laki-laki Melayu serta peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan tentang kematian tersebut. Namun jika Anda mau menelusurinya lebih dalam, Anda akan sampai pada suatu pertanyaan apa yang ada di balik cerita yang berlatar belakang laut tersebut. Konflik-konflik apakah yang harus dihadapi oleh Arsat, mengapa Arsat gagal menemukan kedamaian meskipun ia tahu bahwa kedamaian itu sebenarnya ada dalam diri masing-masing orang?  Cerita ini adalah sebuah cerita tragedi.











b.     Puisi

Berikut ini adalah contoh puisi yang berjudul “The Hollow Men” karya T.S Eliot. Anda pelajari puisi Eliot tersebut dengan saksama.

The Hollow Men
T.S. Eliot

Mistah Kurtz – he dead
A penny for the Old Guy

                 I
We are the stuffied men
We are the hollow men
Leaning together
Headpiece filled with straw. Alas!
Our dried voices, when
We whisper together
Are quiet and meaningless
As wind in dry grass
Or rats feet over broken glass
In our dry cellar

Shape without form, shade without color
Paralyzed force, gesture without motion
Those who have crossed
With direct eyes, to death’sother Kingdom?
Remember us – if at all – not as lost
Violent souls, but only
As the hollow men
The stufled men
Not that final meeting
In the twilight kingdom
            III
This is the dead land
This is cactus land
Here the stone images
Are raised, here they receive
The supplication of a dead man’s hand
Under the twinkle of a fading star

Is it like this
In death’s other kingdom
Walking alone
At the hour when we are
Trembling with tenderness
Lips that would kiss
Form prayers to broken stone

            IV
The eyes are not here
There are no eyes here
In this valley of dying stars
In this hollow valley
This broken jaw of our lost kingdoms

In this last of meeting places
We grope together
And avoid speech
Gathered on this beach of the tumid river
Sightless, unless
The eyes reappear
                     II
Eyes I dare not meet in dreams
In death’s dream kingdom
These do not appear
There, the eyes are
Sunlight on a broken column
There, is a tree swinging
And voices are
In the wind’s singing
More distant and more solemn
Than a fading star

Let me be no nearer
In death’s dream kingdom
Let me also wear
Such deliberate disguises
Rat’s coat, crowskin, crossed staves
In a field
Behaving as the wind behaves
No nearer


As the perpetual star
Multifoliate rose
Of death’s twilight kingdom
The hope only
Of empty men

             V
Here we go round the prickly pear
Prickly pear prickly pear
Here we go round the prickly pear
At five o’clock in the morning

Between the idea
And the reality
Between the motion
And the act
Falls the shadow
               For Thine is the Kingdom
Between the conception
And the creation
Between the emotion
And the response
Falls the shadow
Between the desire
And the spasm
Between the potency
And the existence
Between the essence
And the descent

Dalam sajaknya yang berjudul “The Hollow Men”, T.S. Eliot mencoba mengemukakan tentang peradaban modern: manusia modern dipenuhi dengan ide-ide, opini-opini serta kepercayaan yang mereka sendiri tidak dapat merasakannya. Tujuan utama Eliot dalam puisi ini sebenarnya menciptakan suasana frustasi, kekosongan serta kesedihan seperti diungkapkan dalam kalimatnya “rats feet over broken glass” (baris ke-9), juga dalam kalimat “the cactus land” (baris ke-40). Pada bagian ke-5 dari sajak ini, T.S. Elliot dengan rima yang kekanak-kanakan berusaha mengungkapkan tidak adanya tujuan yang pasti kehidupan manusia modern: impoten, tak berdaya, dan akhirnya berakhir dengan “whimper”.


c.      Drama

Berikut ini adalah contoh cuplikan drama yang berjudul Pygmalion hasil karya George Bernard Shaw.


Pygmalion
George Bernard Shaw

ACT 1

Covent Garden at 11:15 p.m.  Torrents of heavy summer rain. Cab whistles blowing frantically in all directions. Pedestrians running for shelter into the market and under the portico of St. Paul’s Church, where there are already several people, among them a lady and her daughter in evening dress. They are all peering out gloomily at the rain except one man with his back turned to the rest, who seems wholly preoccupied with a notebook in which he is writing busily.
The church clock strikes the first quarter.
THE DAUGHTER (in the space between the central pillars, close to the one of her left). I’m getting childed to the bone. What can Freddy be doing all this time? He’s been gone twenty minutes.
THE MOTHER (on her daughter’s right). He won’t get no cab not until her- past eleven, missus, when they come back after dropping their theater fares.
THE MOTHER. But we must have a cab. We can’t stand here until half-past eleven. It’s too bad.
THE BYSTANDER. Well, it ain’t my fault, missus.
THE DAUGHTER. If Freddy had a bit of gumption, he would have got one at the theater door.
THE MOTHER. What could he have done, poor boy?
THE DAUGHTER. Other people got cabs. Why couldn’t he?
(Freddy rushes in out of the rain from the Southampton Street side, and comes between them closing a dripping umbrella. He is a young man of twenty, in evening dress, very wet round the ankles).
THE DAUGHTER. Well, haven’t you got a cab?
FREDDY. There’s not one to be had for love or money.
THE MOTHER. Oh, Freddy, there must be one. You can’t have tried.
THE DAUGHTER. It’s too tiresome. Doyou expect us to go and get one ourselves?
FREDDY. I tell you they’re all engaged. The rain was so sudden nobody was prepared, and everybody had to take a cab. I’ve been to Charing Cross one way and nearly to Ludgate Circus the other; and they we’re all engaged.
THE MOTHER. Did you try Trafalgar Square?
THE DAUGHTER. Did you try?
FREDDY. I tried as far as Charing Cross Station. Did you expect me to walk to Hammersmith?
THE DAUGHTER. You haven’t tried at all.
THE MOTHER. You really are very helpless, Freddy. Go again; and don’t come back until you have found a cab.
FREDDY. I shall simply get soaked for nothing.
THE DAUGHTER. And what about us? Are we to stay here all night in this draught, with next to nothing on? You selfish pig.
FREDDY. Oh, very well! I’ll go, I’ll go.
(He opens his umbrella and dashes off Strandwards, but comes into collision with a flower girl, who is hurrying in for shelter, knocking her basket out of her hands. A blinding flash of lightning, followed instantly by a ratting peal of thunder, orchestrates the incident).
THE FLOWER GIRL. Nah then, Freedy, look why ‘y’ growing, deah.
FREDDY. Sorry (He rushes off)
THE FLOWER GIRL (picking up her scattered flowers and replacing them in the basket). There’s menners f’ yer! Te-oo banches o’voylets trod into the mad. (She sits down on the plinth of the column, sorting her flowers, on the lady’s right. She is not at all an attractive person. She is perhaps eighteen, perhaps twenty, hardly older. She wears a little sailor hat of black straw that has long been exposed to the dust and soot London and has seldom if ever been brushed. Her hair needs washing rather badly: its mousy color can hardly be natural. She wears a shoddy black coat that reaches nearly to her knees and is shaped to her waist. She has a brown skirt with a coarse apron. Her boots are much the worse for wear. She is no doubt as clean as she can afford to be; but compared to the ladies she is very dirty. Her features are no worse that theirs; but their condition leaves something to be desired; and she needs the services of a dentist).
THE MOTHER. How do you know that my son’s name is Freddy, pray?
THE FLOWER GIRL. Ow, cez-ye-ooa san, is e? Wat, fewd and y’ de-ooty bawmz a mather should, eed now bettern to spawl a pore gel’s flahrzn than ran away athaht pyin. Will ye-oo py me f’ them?
(Here, with apologies, this desperate attempt to represent her dialect without a phoetic alphabet must be abandoned as unintelligible outside London).
THE DAUGHTER. Do nothing of the sort, Mother. The idea!
THE MOTHER. Please allow me, Clara. Have you any pennies?
THE DAUGHTER. No, I’ve nothing smaller than sixpence.
THE FLOWER GIRL (hoperfully). I can give you change a tanner, kind lady.



          Glosarium


Alinasi. Perasaan-perasaan keterasingan dan keterpinggiran yang ditampilkan dengan menggunakan latar fisik yang berbeda atau bentuk artistik untuk memberikan kejelasan dan kemapanan pandangan-pandangan mereka tentang perbedaan dan keunikan individual.
Autobiography technique. Teknik penulisan novel yang berbentuk cerita diri. (teknik autobiografi).
British Commonwealth. Dalam paruh abad ini terjadi perubahan dalam tatanan kenegaraan Inggris. British Empire berubah menjadi British Commonwealth. Perubahan ini bukanlah sekedar perubahan nama. Irlandia, kecuali Ulster, menyatakan kemerdekaannya sebagai negara Republik Irlandia pada tahun 1921. India dan Pakistan, meskipun masih menjadi negara commonwealth merdeka pada tahun 1947. Ide dibalik "British Commonwealth" ini telah memberikan inspirasi pada konstitusi Amerika. Hubungan Inggris dengan negara-negara commonwealthnya serta dominionnya saat ini lebih bersifat "sentimental" daripada "finansial".
Chicago Renaissance. Gerakan yang menantang kemapanan sastra Pantai Timur Amerika serta menunjukkan kematangan bagian dalam Amerika. Tiga penyair Midwest yang aktif dalam gerakan itu adalah Carl Sandburg, Vachel Lindsay, dan Edgar Lee Masters yang mengembangkan teknik realisme dalam puisi.
Eksperimentalisme. Prinsip percobaan yang dipertahankan secara ketat dalam pandangan kebanyakan kaum modernisme.
Epistolary technique. Teknik penulisan novel yang berbentuk surat (teknik surat).
Fugitive Agrarian Movement. Gerakan kesadaran diri modern dari tahun1920-1930 di selatan memunculkan semacam kontradiksi dalam modernisme menjadi sebuah mesin kreativitas.
God'eyes technique. Teknik penulisan novel dengan menggunakan sudut pandang mahatahu (teknik mata Tuhan).
Harlem Renaissance. Gerakan kelahiran kembali kaum kulit hitam pada tahun 1920-an dalam kehidupan budaya dan lingkaran sastrawan "New Negro" seperti Countee Cullen, Arna Bontemps, Wallace Thurman, Zora Neale Hurston, Eric Walrond dan lain-lain.
Modernisme. Gerakan kesenian dimana kesadaran diri seniman mengenai pertanyaan tentang bentuk dan struktur diutamakan. Secara ringkas modernisme menuntut pertimbangan kembali pemahaman tentang pusat dan pinggiran. Salah satu kesepakatan tentang modernisme adalah sebuah gerakan budaya atau sebuah gaya suatu peiode yang dominan dalam seni-seni secara internasional antara tahun-tahun pertama abad 20. Gaya-gaya penulisan baru direprentasikan untuk menemukan gagasan dan tradisi baru.
National Association for the Advancement of Color People. Didirikan oleh Du Bois,  editor pada jurnal Crisis yang banyak menerbitkan karya-karya para penulis penting dari gerakan kelahiran kembali Harlem. Para seniman kulit hitam mempertanyakan tentang keadilan sosial dan bentuk estetik dalam cara-cara tertentu.
Naturalisme. Ciri khasnya yang menonjol yang dipengaruhi oleh penulis Perancis Zola dan Maupassant.
New Criticism. Aliran kritik sastra baru di Amerika yang populer pada akhir tahun 1930-an.
New Negro Movement. Gerakan Negro Baru yang memiliki hubungan yang rumit antara gerakan modernisme dengan kelahiran kembali Harlem. Pada periode ini banyak karya sastra baik dalam bentuk puisi, prosa, drama dan esai dihasilkan oleh sekelompok penulis Afrika-Amerika yang berbakat seperti Jean Toorman yang terkenal sampai keluar Harlem melalui kemunculannya dalam penerbitan-penerbitan kulit putih yang terkemuka.
Regionalisme. Aliran yang dianut oleh para seperti Fitzgerald yang mengangkat kehidupan di daerah pinggiran dan secara serentak menumbuhkan warna lokal.
Scientific romance. Bentuk roman ilmiah atau sains fiksi yang digunakan oleh Wells dan diperkenalkan dalam khasanah kesusastraan Inggris masa kini.
Stream of consciousness. Sebuah teknik penulisan yang disebut "arus kesadaran" atau teknik "monolog dalam kesadaran" (interior monologue).
The Lost Generation. Istilah yang diberikan oleh Gertrude Stein (1874-1946) kepada Lewis dan Anderson yang tidak memainkan peran aktif dalam Perang Dunia I. Generasi muda yang mengalami perang parit, mempunyai pandangan yang lebih pesimis dan menggunakan teknik sastra yang berbeda.




Referensi

Suharno, dkk. (2007) Introduction to English Literature. Jakarta: Universitas Terbuka.



Kamis, 07 November 2019

Puisi “Crossing the Bar” bahan kuliah

Terimakasih ats kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjawab pertanyaan ini.

  1. Bagaimanakah pola rimanya dari bait 1 sampai ke empat?
  2. Anda perhatikan baris-baris puisi dalam setiap bait, apakah memiliki jumlah baris yang sama? Jelaskan jawaban Anda!
  3. Apa makna dari baris-baris puisi yang ditulisnya?

Sebelumnya berikut merupakan puisi yang menjadi pembahasan dan memiliki pertanyaan yang harus dijawab

“Crossing the Bar”
Sunset and evening star
   And one clear call for me!
And may there be no moaning of the bar,
   When I put out to sea,

But such a tide as moving seems asleep,
   Too full for sound and foam,
When that which drew from out the boundless deep
   Turns again home.

Twilight and evening bell,
   And after that the dark!
And may there be no sadness of farewell,
   When I embark;

For though from out our bourne of Time and Place
   The flood may bear me far,
I hope to see my Pilot face to face
   When I have crossed the bar.

Berikut terjemahan dari puisi diatas
Matahari terbenam dan bintang malam
Dan satu panggilan yang jelas untuk saya!
Dan mungkin tidak ada rintihan di bar,
 Saat aku melaut,
Tapi gelombang seperti bergerak sepertinya tertidur,
Terlalu penuh untuk suara dan busa,
Ketika itu yang menarik keluar dari dalam tak terbatas Kembali pulang.
Senja dan bel malam,
 Dan setelah itu gelap!Dan semoga tidak ada kesedihan perpisahan,
Ketika saya memulai;
Karena meskipun dari bourne kami Waktu dan Tempat Banjir mungkin membuat saya jauh,
Saya berharap bisa melihat langsung Pilot saya
Ketika saya telah melewati bar.


  1. Bagaimanakah pola rimanya dari bait 1 sampai ke empat?
Pola rima dari puisi tersebut  yakni  bait pertama sampai bait ke empat meiliki pola  A-B-A-B.
  1. Anda perhatikan baris-baris puisi dalam setiap bait, apakah memiliki jumlah baris yang sama? Jelaskan jawaban Anda!
Jika diperhatikan puisi ini pada Setiap baris memiliki jumlah bait yang sama. Sebab  puisi ini memiliki empat bait  dan setiap bait  masing-masing berisi empat baris.
  1. Apa makna dari baris-baris puisi yang ditulisnya?
Makna dari baris-baris puisi tersebut adalah

Baris 1-2
Matahari terbenam dan bintang malam,
  Dan satu panggilan yang jelas untuk saya!
• Puisi dibuka dengan pembicara berbicara tentang "matahari terbenam" dan "bintang malam." Ini adalah akhir hari ("matahari terbenam"), dan bintang malam, yang sebenarnya adalah planet Venus, sedang naik.
• Akhir dari hari itu, tampaknya, merupakan "panggilan yang jelas" untuk pembicara. Tapi "panggilan jelas" untuk apa? Untuk pulang? Apakah ada semacam klakson yang bertiup? Apakah dia benar-benar memiliki penerimaan bintang di selnya?
• Pada titik ini dalam puisi, masih terlalu dini untuk mengatakannya, tetapi kami akan mengingatnya. Mungkin ini adalah metafora untuk sesuatu.
• Tapi tunggu sebentar. Kita sudah tahu bahwa Tennyson menulis anak anjing ini ketika dia mendekati akhir hidupnya. Jadi mungkin — mungkin saja — dia berbicara secara metaforis di sini tentang kematiannya yang semakin dekat. Itu akan menjelaskan matahari terbenam, dan panggilan itu bisa menjadi semua terompet itu, memanggilnya ke surga.
• Tetapi sekali lagi, pembicara juga berusaha untuk tidak memikirkan dirinya sendiri.
Baris 3-4
Dan mungkin tidak ada rintihan di bar,    Saat aku melaut,
• Pembicara berharap tidak akan ada "erangan batangan" saat dia melaut. Kata-kata bijak, itu. Jika ada satu hal yang Shmoop tahu, itu adalah mengeluh dan merengek di bar selalu merupakan ide yang buruk.
• Kecuali bilah di sini merujuk pada bilah pasir — bukan jenis minuman keras. Pasir sering terbentuk di mulut sungai dan pelabuhan, dan itu adalah sesuatu yang harus Anda lewati jika Anda berharap untuk berlayar di lautan terbuka lebar.
• Tampaknya pembicara tidak ingin gundukan pasir terganggu oleh kepergiannya. Tetapi jika kita benar-benar berbicara secara kiasan tentang kematian di sini (seperti yang kita tebak dalam dua baris pertama), maka kita harus menafsirkan apa yang terjadi dalam istilah-istilah itu.
• Jika dia berbicara tentang kepergiannya dari kehidupan (dan bukan kepergian harfiah dari pelabuhan yang sebenarnya), maka dia tidak ingin sandbar, atau orang lain dalam hal ini, membuat keributan besar dari itu.
• Dalam hal itu, kedengarannya seperti gundukan pasir adalah metafora untuk batas antara hidup dan mati, atau kehidupan dan kehidupan setelah kematian. Dan untuk mencapai akhirat, dia harus melewati batas itu.
• Shmoopers dan Shmoopettes, sekarang kita memiliki satu bait di belakang kita, sekarang saatnya untuk berbicara. Kami tahu kami bekerja dengan sesuatu yang tradisional karena kami punya beberapa tindakan berima turun. Bintangi berima dengan bar, dan aku berima dengan laut. Sepertinya kita punya skema pantun ABAB kuno yang bagus.
• Tapi bagaimana dengan meter? Yah, itu agak kurang jelas. Baris 1, 2, dan 4 semuanya memiliki enam suku kata dan semacam perasaan daDUM daDUM tentang mereka. Dan jalur 3 memiliki sepuluh suku kata, mengisyaratkan pentameter iambik. Sepertinya kita akan berurusan dengan campuran meter iambik dalam puisi ini, jadi pergilah ke bagian "Formulir dan Meter" untuk informasi lebih lanjut.
Baris 5-6
Tapi gelombang seperti bergerak sepertinya tertidur, Terlalu penuh untuk suara dan busa
• Sepertinya, alih-alih bunyi erangan, pembicara kita lebih suka berlayar di "gelombang seperti bergerak yang tampaknya tertidur." Mendapatkan? Mengerti? Tidak?
• Shmoop mendukung Anda. Pada dasarnya, dia hanya mengatakan bahwa dia lebih suka berlayar pada saat air pasang, ketika gundukan pasir itu terkubur jauh di bawah air.
• Agar hal itu terjadi, ombak harus "terlalu penuh untuk suara dan busa." Dengan kata lain, ombaknya harus cukup tinggi sehingga ombak tidak akan pecah di sandbar. Dia bisa berlayar tepat di atasnya, dan berada di jalannya yang meriah (mematikan).
• Tennyson benar-benar melenturkan otot puisinya di sini. Tidak hanya dia menggunakan metafora berlayar untuk berbicara tentang menendang ember (dan serius, mana yang lebih suka Anda bicarakan?), Ia juga menggunakan beberapa bahasa kiasan untuk menggambarkan laut di mana ia berlayar. Dia ingin itu tampak tertidur saat bergerak, seolah-olah laut itu hidup.
Baris 7-8
Ketika itu yang menarik keluar dari dalam tak terbatasKembali pulang.
• Metafora arus lebih di sini. Faktanya, kita sedang memasuki wilayah metafora yang luas di sini, ketika Anda mempertimbangkan fakta bahwa ia sedang melakukan pasang surut untuk dua bait yang bagus.
• Di sini, dia melanjutkan harapan yang dia taruh di awal bait — bahwa ketika dia berlayar, Anda tahu, petualangan besar kematian, dia ingin air pasang menjadi tinggi.
• Hanya dalam kasus ini, dia menggunakan bahasa kiasan yang lebih mewah untuk mengatakannya.
• "Apa yang menarik dari kedalaman yang tak terbatas"? Itulah ombak, ditarik keluar ke laut (atau "kedalaman tak berbatas") oleh bulan ketika ombak rendah.
• "Saat itu berbalik lagi ke rumah" mengacu pada saat gelombang datang kembali, mengisi pelabuhan dan menutupi gundukan pasir.
• Jika air pasang masuk, hal itu membuat pelayaran lancar bagi pembicara kita. Dia bisa berlayar keluar melewati gundukan pasir itu tanpa ada yang berdiri di antara dirinya dan kedalaman yang tak terbatas. Beruntungnya dia?
• Namun ada sisi lain dari bacaan ini. Anda mungkin juga berpikir bahwa "apa yang" sebenarnya mengacu pada pembicara. Seperti dalam, ia berharap gelombang akan kooperatif ketika jiwanya kembali ke rumahnya di kedalaman yang tak terbatas, atau kematian.

Baris 9-10
Senja dan bel malam, Dan setelah itu gelap!
• Bukannya kita pelaut ahli atau apa, tapi apakah itu terdengar sedikit berisiko bagi orang lain bahwa pria ini berlayar di senja sepanjang waktu? Peringatan yang adil, Shmoopers yang adil, lautan terbuka dalam gelap gulita terdengar seperti resep untuk teror belaka.
• Namun demikian, pembicara kita menuju ke arah itu — berlayar setelah matahari terbenam, dan berencana untuk tetap berlayar ketika dia mencapai lautan terbuka, di mana listrik sulit didapat.
• Garis-garis ini memanggil kembali ke bait pertama, ketika pembicara berteriak, "matahari terbenam dan bintang malam." Hanya di sini, citra telah berubah sedikit. Sekarang sudah senja (bukan matahari terbenam), dan dia mendengar bel, bukannya panggilan. Waktu berlalu — itu sedikit lebih lambat dalam proses.
• Lonceng mengingatkan kita pada dua hal — lonceng yang mungkin Anda dengar di atas kapal di pelabuhan, dan sangkakala yang kami sebutkan dalam bait 1, yang memanggil orang ke alam baka.
Baris 11-12
Dan semoga tidak ada kesedihan perpisahan, Ketika saya memulai;
• Oooh, semuanya menjadi pribadi. Sang pembicara, ketika dia akhirnya berlayar keluar dari pelabuhan ini, tidak ingin orang-orang yang ditinggalkannya menjadi kacau dan membuat keributan besar.
• Bahkan, sepertinya dia bahkan tidak ingin orang-orang ini mengucapkan selamat tinggal sama sekali. Terlalu banyak kesedihan dalam semua keriuhan menyentak itu.
• Dalam gema lain dari bait pertama, kata-kata ini memanggil kembali ke keinginan pembicara untuk tidak "mengerang bar."
• Intinya di sini adalah bahwa pria ini ingin menyelinap pergi di malam hari — tidak ada orang bodoh, tidak ada keributan, tidak ada pelukan sisi canggung atau ciuman pipi. Ketika dia pergi, dia hanya ingin pergi.
Baris 13-16
Karena meskipun dari bourne kami Waktu dan TempatBanjir mungkin membuat saya jauh,Saya berharap bisa melihat langsung Pilot sayaKetika saya telah melewati bar.
• Baiklah Shmoopers, saatnya untuk menunjukkan ini di jalan. Pembicara membawanya pulang dalam bait terakhir ini, membungkus metafora panjang berlayar sebagai kematian dan meninggalkan kita dengan sedikit harapan spiritual untuk boot.
• Pertama, dia mengatakan dia tahu bahwa "banjir," atau laut mungkin "membawa [dia] jauh", atau membawanya jauh melampaui "bourne of Time and Place," atau batas waktu dan tempat.
• Ini adalah momen mematikan pertama, yang tidak salah lagi di mana kita tahu bahwa orang ini tidak sedang membicarakan tentang pelayaran akhir pekan di kapal kecilnya. Maksud kami, kami belum pernah mendengar tentang kota tepi laut bernama Waktu dan Tempat — bukan?
• Kemudian, dia mengatakan itu, meskipun dia tahu ini semua akan turun, itu keren, karena dia pikir dia akan bisa melihat "Pilotnya bertatap muka."
• Tentang apa itu? Nah, jika kita mengikuti seluruh metafora pelayaran sebagai kematian, tebakan terbaik kita adalah Pilot pembicara kita (dengan huruf kapital dan semuanya) tidak lain adalah Allah sendiri — pria di lantai atas. Alih-alih seorang pilot perahu, Tuhan telah menjadi pilot kehidupan pembicara ini.
• Dan coba tebak? Ketika pembicara akhirnya menyeberangi gundukan pasir itu dan mencapai lautan terbuka — ketika ia akhirnya menyeberang ke kematian, maksud kami, ia akan berhadapan muka dengan Tuhan di surga.
• Jadi sungguh, tidak terlalu buruk. Tentu, dia menuju ke kegelapan, tetapi setidaknya Tuhan di ujung yang lain

Kamis, 11 April 2019

Dependent dan Independent Clause

    Untuk gampangnya, clause adalah anak kalimat; jadi clause merupakan bagian dari kalimat tetapi memiliki subyek dan katakerjanya sendiri.  Perhatikan contoh berikut: 
1. She suggested that I marry her sister.
Kalimat pada contoh 1 ini terbagi dalam dua clauses, yaitu 
She suggested dan that I marry her sister 
Kalau kita perhatikan kedua clause ini, ada perbedaan signifikan.  Pertama bahwa “She suggested” dapat berdiri sendiri sebagai kalimat dan sudah memberikan makna yang utuh.  Kedua, “that I marry her sister” tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat, dia hanya bisa menjadi kalimat jika berada bersama dengan clause yang lainnya (She suggested). Coba saja Anda berbicara kepada seseorang, dan langsung mengatakan “that I marry her sister”.  Yang diajak bicara pasti bingung.  Tetapi maknanya menjadi jelas dan terang kalau kita mengatakan “She suggested that I marry her sister”.
Karena situasi ini, maka kita mengatakan bahwa She suggested independent clause (karena bisa berdiri sendiri) that I marry her sister dependent clause (karena tidak bisa berdiri sendiri)
Uraian singkat ini mudah-mudahan bisa memberikan penjelasan.  Silakan Anda pelajar secara mandiri modul Anda halaman 1.2 sampai dengan 1.4.
Types of Dependent Clause
Dependent clause (yang tidak bisa berdiri sendiri) bisa berupa noun (yang kemudian disebut dengan noun clause), bisa berupa adjective (yang kemudian disebut dengan adjective clause), bisa juga berupa adverb (yang kemudian disebut adverbial clause).
Noun Clause
Kita ambil noun clause sebagai contoh.  Noun clause adalah noun yang memiliki subyek dan katakerjanya sendiri sebagaimana layaknya kalimat atau anak kalimat.  Pelajari contoh ini. 
2. How did I know what you thought.    
Ini adalah dependent clause yang berfungsi sebagai benda (noun clause). Bagaimana kita tahu kalau itu benda?  Setelah kata know biasanya kata berikutnya adalah benda.

 2
Modul 1 & Modul 2
Ini contoh lain untuk dependent clause. 3. I believe that everything happens for a reason.    
Selanjutnya silakan Anda pelajari secara mandiri modul Anda halaman 1.2 sampai dengan 1.6. 
Adjective Clause
Tentu saja, ini adalah clause yang berfungsi sebagai adjective.  Ingat, fungsi adjective adalah menerangkan noun.  Saya ambil satu contoh dari modul: 
4. The car that he drives is very expensive. 
“that he drives” adalah clause yang menerangkan “the car”.  Karena fungsinya yang menerangkan noun, maka dinamakan adjective clause.   Ini satu contoh lagi dari modul: 
5. I like the novel that he wrote. 
“that he wrote” adalah adjective clause yang menerangkan tentang “the novel”.
Selanjutnya, silakan Anda pelajari secara mandiri modul Anda halaman 1.6 sampai dengan 1.7. 
Adverbial Clause
Yang ini, tentu saja, adalah clause yang berfungsi sebagai adverb.  Kita langsung saja ke contoh dari modul 
6. He gave the money to the man who had done the work.
Pada contoh ini, clause “to the man who had done the work” menerangkan kegiatan “gave the money”.  Karena dia menerangkan verb, maka dia disebut adverbial clause.
Ini contoh lain: 
7. It was very noisy when Jim studied in the Sweet Shop for his chemistry quiz.   
Sekarang silakan Anda mempelajari modul Anda secara mandiri halaman 1.7 sampai dengan 1.9. 
Ini adalah dependent clause yang berfungsi sebagai benda (noun clause). Clause ini juga suka disebut sebagai “that clause” karena menggunakan “that”.
Ini adalah adverbial clause yang ditandai dengan dependent marker “when”. Dependent marker lainnya yang bisa digunakan antara lain: after, although, as, as if, because, before, even if, even though, if, in order to, since, though, unless, until, whatever, when, whenever, whether, dan while.

 3
Modul 1 & Modul 2
Sentence
Barangkali perlu sedikit membahas apa itu kalimat.  Secara makna, serangkaian kata-kata itu disebut kalimat jika memberikan pemahaman yang utuh.  Secara fungsi, serangkaian kata-kata itu disebut kalimat jika di dalamnya terkandung subject dan predicate.  Di sini kita, yang merupakan pengguna bahasa Indonesia, harus hati-hati.  Di dalam bahasa Inggris, dalam suatu predikat harus ada katakerjanya, dan keberadaa kata kerja ini mutlak.  Dalam bahasa Indonesia, keberadaan katakerja dalam kalimat tidak mutlak.  Berikut contohnya: 
8. I need a new pencil.  
9. She is sick.    
Di dalam modul dikemukakan bahwa suatu kalimat bisa terdiri dari satu kata.  Silakan baca dan pelajari sendiri. 
Clasification of Sentence
Klasifikasi kalimat terbagi dalam dua kategori besar, yaitu klasifikasi berdasarkan Classification by types dan Classification by the number of full predications. 
Classification by types
Declarative Sentence adalah kalimat yang memberikan informasi atau pendapat.  Pelajari contoh berikut: 10. I am find. 11. She was playing in the yard. 12. He goes to bed before 10. 13. Math is a difficult subject. 
Interrogative
Ini adalah kalimat tanya, sebagaimana contoh berikut: 14. Are you alright 15. Did she find her lost pen? 16. Have you read the letter? 17. Why are you here? 18. Where did you go?
ini adalah predicate yang di dalamnya ada katakerja need.
ini adalah predicate yang di dalamnya ada katakerja is. Dalam bahasa Indonesia, kita bisa langsung mengatakan “Dia sakit” dan dalam kalimat ini tidak ada katakerja, tetapi tetap bisa disebut kalimat.  Dalam bahasa Inggris, kita tidak bisa mengatakan “she sick”.
Yes-No Questions
Question-word Questions

 4
Modul 1 & Modul 2
Imperative sentence
Ini merupakan kalimat perintah atau permintaan.  Kalimat ini diakhiri dengan tanda seru (!).  Perhatikan contoh berikut. 19. Stop! 20. Be quiet! 21. Take it! 22. Open the door! 23. Wait here, please! 
Exclamation Sentence
Tipe ini digunakan untuk mengungkapkan emosi, seperti rasa kagum, gembira, atau perasaan lainnya.  Biasanya, tipe ini diawali dengan kata what atau How.  Pelajari contoh berikut. 
24. What a party! 25. What beautiful eyes! 26. How beautifully she danced 
Classification by the number of full predications
Simple Sentence
Ini kalimat sederhana yang hanya memiliki satu ide atau pemikiran saja.  Pelajari contoh berikut. 27. Amy studied biology. 28. Aji was ini Yogyakarta. 29. She plays violin well.
Compound Sentence
Ini merupakan kalimat yang menggabungkan dua (bisa lebih) ide atau pemikiran.  Pelajari contoh berikut. 30. She cooked in the kitchen and I worked in my study.
Pada contoh 30 ini ada dua ide atau pemikiran, yaitu “She cooked in the kitchen” dan “I worked in my study” yang disatukan dengan menggunakan conjunction “and”.
Kalau Anda perhatikan, kedua clauses pada contoh 30 ini memiliki posisi yang setera; keduanya bisa berdiri sendiri tanpa tergantung kepada yang lainnya.
Dalam compound sentence, penyatuan dua dependent clauses ini dilakukan dengan menggunakan kata penghubung (conjunctions).  Conjuctions yang dapat digunakan antara lain also, besides, moreover, still, therefore, consequently, otherwise, accordingly, however, nevertheless, then, thus, furthermore, on the other hand.
Untuk compund sentence ini, silakan selanjutnya Anda pelajari modul Anda halaman 1.21 sampai dengan 1.24.
Imperative Sentence ini seperti tidak memiliki subject, tapi sebenarnya ada subject-nya, hanya tidak disebutkan. Kata “Stop!” misalnya, sebenarnya bermakna “You stop!”.
[Pesta yang hebat!]
[Mata yang indah!] [Betapa indahnya dia menari!]

 5
Modul 1 & Modul 2
Complex Sentence
Complex sentense adalah kalimat yang terdiri dari satu independent clause ditambah dengan satu atau lebih dependent clause (atau subordinate clause).  Pelajari contoh berikut yang saya ambil dari modul dengan seksama. 
31. You should lock the doors before you leave the house.  
32. When the conductor appeared on the stage, the audience applauded loudly. 
Silakan Anda pelajari modul Anda halaman 1.24 sampai dengan 1.25. 
Compound Complex Sentence
Compound complex sentence terbuat dari dua independent clause ditambah dengan satu atau dua dependent clause.  Pelajari contoh berikut: 
33. Although I like to go camping, I haven't had the time to go lately, and I haven't found anyone to go with.
Analisis untuk kalimat ini adalah sebagai berikut
Although I like to go camping dependent clause I haven't had the time to go lately independent clause I haven't found anyone to go with independent clause 
Ini adal contoh lain. 34. We decided that the movie was too violent, but our children, who like to watch scary movies, thought that we were wrong.
Analisis untuk kalimat ini agak rumit.  Pelajari dengan seksama:
We decided that the movie was too violent independent clause (but) our children thought that we were wrong independent clause who like to watch scary movies dependent clause
Satu contoh lagi untuk Anda 35. I usually use a pick whenever I play the guitar, or I just use my fingers.
I usually use a pick independent clause whenever I play the guitar dependent clause (or) I just use my fingers independent clause
Untuk selanjutnya, silakan pelajari modul Anda halaman 1.25 – 1.26. 
Dependent clause. Independent clause
Dependent clause. Independent clause

 6
Modul 1 & Modul 2
Modul 2: Conjunction
Coordinate conjuction
Penggabungan kata
Termasuk pada coordinate conjunction adalah and, but, or, yet, so, dan for.  Coordinate conjunction ini berfungsi untuk menyatukan dua kata atau lebih.  Kata-kata yang bisa disatukan bisa nouns, bisa verbs, bisa adjectives, bisa juga adverbs.
Penggabungan dua nouns 36. Anton and Tony are brothers.  
37. I need books and pencils. 
Penggabungan dua verbs 38. She slipped and fell down. 
Penggabungan dua adjectives 39. She not clever but beautiful 
Penggabungan dua adverbs 40. They moved quickly but quietly 
Informasi lebih lengkap ada di halaman 2.2 – 2.4 modul Anda. 
Penggabungan frasa
Perhatikan contoh yang saya ambil dari modul ini. 41. The choir sang traditional songs and the national anthem beautifully.  
Banyak contoh lagi di modul Anda; silakan pelajari halaman 2.5 – 2.7. 
Functional unit joined by coordinate
Bagian ini tidak akan saya kupas di sini; silakan Anda pelajari secara mandiri pada halaman 2.7 – 2.9.
Kata Anton dan Tony digabungkan oleh and.
Kata books dan pencils digabungkan oleh and.
Katakerja slipped dan fell down digabungkan oleh and.
Katasifat clever dan beautiful digabungkan oleh but.
Kata quicly dan quietly digabungkan oleh but.
dua frasa ini (traditional songs dan the national anthem) digabungkan oleh and.

 7
Modul 1 & Modul 2
Subordinate conjunctions
Penjelasan untuk masalah ini saya kira lebih baik dengan contoh.  Perhatikan kalimat berikut (yang saya ambil dari modul halaman 2.17): 42. He could not complete the programme because he could not finish doing his research.   
Subordinate conjunctions lainnya yang dapat digunakan antara lain: after although as because before if once since that though till unless  until whenever whereas while
Tabel 2.1 pada modul halaman 2.18 – 2.20 memberikan contoh lengkap mengenai subordinate conjunction dalam penggunaannya. 
Two word conjunctions
Suatu conjunction tidak selalu terdiri dari satu kata, tetapi juga ada yang terdiri dari lebih dari satu kata.  Perhatikan dan pelajari beberapa contoh berikut yang saya ambil dari modul:
inasmuch as (=cause)
The company will have to take the case to court inasmuch as no offer has been made to pay for the damage.
now that (=cause)
Now that she has already a baby, she has to find a baby sitter.
Provided that I will come, provided that I am invited.
if only I could get more work if only there were not so much noise.
as if as though
She acted as if she were rich 
Subordinate conjunctions beginning with prepositional phrase
Pada bagian ini, penulis modul menguraikan penggunaan as long as, for the purpose that, for fear that, in order that, in the hope that dan lainnya bersama dengan maknanya.  Anda dapat mempelajari bagian ini pada halaman 2.22 – 2.24.
Di bawah ini diberikan contoh dalam kalimat. 43. As far as I am concerned, he can do what he likes. 44. The football team is selected for the purpose that they may win the competition. 45. Hendry studies very hard for fear that he may not be able to be the best student.
Ini adalah subrdinate counjunction karena fungsinya yang mengawali subordinate clause yang berbunyi “he could not finish doing his research”

 8
Modul 1 & Modul 2
Split conjunctions
Bagian terakhir dari modul ini mengupas split conjunctions.  Disebut split conjunctions karena conjunctions yang terpisah oleh kata-kata lain.  Pelajari contoh di bawah ini: 46. He was injured so badly that he had to go to the hospital. 47. It is such expensive furniture that I cannot afford it.
Berikutnya silakan Anda pelajari sendiri di halaman 2.25 – 2.25.

Rabu, 10 April 2019

Elements of Story or Fiction - character, setting, plot, point of view, style, tone, theme


Elements of fiction and elements of story in general can be used by the reader to increase their enjoyment and understanding of different literary pieces. Once students are aware that all stories have elements of character, setting, plot, theme, point of view, style, and tone; they can be encouraged to ask themselves to identify the characteristics of each for a particular story. The more familiar they become with the different kinds of elements the better they will understand and critically analyze stories.
Character
Character is the mental, emotional, and social qualities to distinguish one entity from another (people, animals, spirits, automatons, pieces of furniture, and other animated objects).
Plot
Plot is the order in which things move and happen in a story.
Chronological order is when a story relates events in the order in which they happened.
Setting
Setting includes time and place.
Backdrop setting is when the setting is unimportant for the story and the story could take place in any setting. Winnie-the-Pooh by A. A. Milne is an example of a story in which could happen in any setting
Theme
Theme is the main idea that weaves the story together, the why, the underlying ideas of what happens in the piece of literature, often a statement about society or human nature.
Point of view
Point of view is determined by the authors' descriptions of characters, setting, and events told to the reader throughout the story.
Style
Style is how the author says something, the choice of words and the use of language, sentence construction, imagery... not what the author says. It adds significance and impact to the author's writing.

Paragraph Patterns And In expository paragraphs


Paragraph Patterns. The pattern of the overall piece writing strongly reflects on the assignment question, where the task words are presented, or thesis this statement is presented. A decision is usually made in the planning stages as to how the overall argument will be presented.

In expository paragraphs, we can provide information. we can explain the subject, give direction, or show how something happened. In expository writing, connecting words like first, second, then, and finally usually used to help readers follow ideas. ... Remember that all paragraphs must contain topic sentences.

Sabtu, 06 April 2019

Independent Clause And Depenent Clause


Independent Clause
Indepenent clause adalah main clause  atau dalam bahasa indonesia disebut induk kalimat  atau juga disebut dengan klausa utama. Yaitu kelompok kata yang saling berhubungan yang mempunyai subjek dan predikat dan dapat berdiri sendiri sebagai kalimat yang lengkap dan utuh sehingga independent clause bisa disamakan dengan simple sentences.
Contoh independet clause:
1.     Yusuf is my son
2.     Siti is my daughter
3.     Sintia is very happy
4.     English is international language
5.     The went to the supermarket
6.     I have ben Thailand
7.     We visited Pantai Losari last week
Depenent clause
            Dependent atau disebut juga dengan subordinat clause , dan dalam bahasa Indonesia disebut dengan anak kalimat , mempunyai subject dan predikat, teteapi tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat yang lengkap, karena  tidak mengekspresikan pemikiran yang lengkap, dependent clause memerlukan independet clause  agar dapat memerlukan informasi yang lengkap dan utuh.
            Depenent clause disebut subordinat clause karena menggunakan subordinat conjunction, seperti that, whether, if , when, until, after although, because, since, whereas, dan before  teteapi adjektive clause menggunakan relative pronoun, seperti, tahat, wich,who, whom, dan whose.
Berikut contohnya:
1.     That he is a Marketer
2.     If you go with us
3.     Baecause he did not have any money
4.     After you arive in makassar
5.     Whereas Sinta is diligent
6.     Who is sitting alone
7.     Why she Cried
8.     Whose hair is long
9.     Wherever you go
10.                         Wheater you go by bus or by train.

SEBUAH PAGI DAN ANAK BURUNG YANG MALANG

          Angin pagi adalah tangan yang tak kasat mata, yang berembus melalui pepohonan tua di halaman rumah, daun-daunnya gemerisik menggig...