- Landasan Ontologis
Progresivisme dianggap sebagai aliran pikiran yang baru muncul dengan jelas
pada pertengahan abad ke-19. Akan tetapi sumber lain mengatakan progresivisme
bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri
sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan atau perkumpulan yang didirikan pada
tahun 1918. Selama 20 tahun menjadi gerakan yang sangat kuat di Amerika Serikat
banyak guru yang ragu-ragu terhadap gerakan ini. Gerakan progresik ini terkenal
luas karena reaksinya terhadap formalisme dan sekolah tradisional yang
membosankan, yang menekankan disiplin keras belajar fisik dan banyak hal-hal
kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Pengaruh progresivisme terasa di
seluruh dunia, terlebih-lebih di Amerika Serikat. Usaha pembaharuan di dalam
lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran progresivisme ini.
Progresivisme dalam pendidikan adalah bagian dari gerakan reformasi umum
sosial-politik yang menandai kehidupan Amerika di akhir abad XIX dan awal abad
XX, disaat Amerika berusaha menyesuaikan diri dengan urbanisasi.
Progresivisme
sebagai sebuah teori pendidikan muncul sebagai bentuk reaksi terbatas terhadap
pendidikan tradisional yang menekankan metode-metode formal pengajaran, belajar
mental (kejiwaan), dan kesusatraan klasik peradaban Barat. Pengaruh intelektual
utama yang melandasi pendidikan progresif adalah Jhon Dewey, Sigmun Freud, dan
Jean Jacques Rousseau.
Dewey
menjadikan sumbangan pemikirannya sebagai seorang filsuf aliran pragmatik yang
menuliskan banyak hal tentang landasan-landasan filosofis pendidikan dan
berupaya menguji keabsahan gagasan-gagasannya dalam laboratorium sekolahnya di
Universitas Chicago. Dengan demikian pragmatime kiranya dapat dilihat sebagai
pengaruh utama dalam teori pendidikan progresif.
Progresivisme
menghendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif. Tujuan pendidikan
hendaknya diartikan sebagai rekontruksi pengalaman yang terus menerus agar
peserta didik dapat berbuat sesuatu yang intelegen dan mampu mengadakan
penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dari lingkungan.
Biasanya
aliran progresivisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup liberal “the
liberal road to culture”, maksudnya adalah pandangan hidup yang mempunyai
sifat-sifat sebagai berikut: fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan,
tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu), curios (ingin mengetahui, ingin
menyelidiki), toleran dan open-minded ( mempunyai hati terbuka).
Menerapkan
aliran progresivisme dalam pengembangan pendidikan indonesia berpengaruh besar,
karena progresivisme disini merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan
memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar
“naturalistik” dan aliran ini juga telah meletakan dasar-dasar kemerdekaan dan
kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberi kebaikan, baik fisik maupun cara
berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya
tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain dan ini sangat bagus
untuk pengembangan pendidikan di Indonesia.
2.
Landasan Epistimologis
a. Metode
pendidikan aktif
Pendidikan
progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan
berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan
bakat dan minatnya.
b.
Metode memonitor kegiatan belajar
Mengikuti
proses kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan apabila
diperlukan yang sifatnya memperlancar berlangsung kegiatan belajar tersebut.
c. Metode
penelitian ilmiah
Pendidikan
progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada
penyusunan konsep atau rangkaian pengamatan yang sambung menyambung,
berakumulasi dan melahirkan teori-teori yang mampu menjelaskan dan meramalkan
fenomena-fenomena.
d. kerjasama
sekolah dengan keluarga
Pendidikan
Progresif mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam
rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk
mengekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak.
e. Sekolah
sebagai laboratorium pembaharuan pendidikan
Sekolah
tidak hanya tempat untuk belajar, tetapi berperanan pula sebagai
laboratoriun dan pengembangan gagasan baru pendidikan.
f.
Memberikan soal latihan teka teki kepada anak didik.
g. Membuat
kelompok atau grup belajar, dengan mengelompokkan minat masing-masing anak pada
suatu topik.
h.
Membicarakan topik hangat yang sedang beredar di masyarakat secara bersama-sama
didalam ruang kelas.
i.
Pendidikan berpusat pada anak
Pendidikan
progresivisme menganut prinsip pendidikan berpusat kepada anak. Anak merupakan
pusat dari keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan. Pendidikan progresivisme
sangat memuliakan harkat dan martabat anak dalam pendidikan. Anak bukanlah
orang dewasa dalam bentuk kecil. Anak adalah anak, yang sangat berbeda dengan
orang dewasa. Setiap anak mempunyai individualitas sendiri-sendiri, anak
mempunyai alur pemikiran sendiri, anak mempunyai keinginan sendiri, mempunyai
harapan-harapan dan kecemasan sendiri, yang berbeda dengan orang dewasa.
j. Setiap
pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan jadwal ujiannya untuk mata
pelajaran yang menurutnya sudah dikuasai.
k. Memilih guru
yang direkrut dari mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi.
- Landasan Aksiologis
Progresivisme
disini merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan
lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik” dan aliran ini
juga telah meletakan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik.
Anak didik diberi kebaikan, baik fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan
bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan
yang dibuat oleh orang lain.
Aliran ini
sangat berpengaruh terhadap pengembangan pendidikan karena aliran ini mengarah
ke kemajuan pengembangan pendidikan terutama di Indonesia. Progres atau
kemajuan menimbulkan perubahan dan perubahan menghasilkan pembaharuan kemajuan
disini mengandung nilai dapat mendorong untuk mencapai tujuan.
Pendidikan
progresivisme selalu menekankan akan tumbuh dan berkembangnya pemikiran dan
sikap mental, baik dalam pemecahan masalah maupun kepercayaan kepada diri
sendiri bagi peserta didik.
Aliran
filsafat progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar terhadap dunia
pendidikan karena telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan,dan kebebasan kepada
anak didik, oleh karena itu, filsafat ini tidak menyetujui pendidikan yang
otoriter. Sebab pendidikan otoriter akan mematikan potensi pebelajar untuk
mengembangkan potensinya.
Untuk itu
pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru yang
memberikan warna dan corak dari kreasi yang dihasilkan dari situasi yang
tercipta secara edukatif. Setiap pebelajar mempunyai akal dan kecerdasan
sebagai potensi yang dimilikinya yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain.
Potensi tersebut bersifat kreatif dan dinamis untuk memecahkan
problema-problema yang dihadapinya (Hamdani, 1993:146).
SUMBER:
Ali, H. B.
Hamdani. 1987. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kota Kembang.
Barnadib,
Imam. 1998. Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode. Yoyakarta:
Andi Offset.
http://www.arizalf.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar