Kamis, 25 Oktober 2018

Aliran Progresivisme dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia


  1. Landasan Ontologis
   Progresivisme dianggap sebagai aliran pikiran yang baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad ke-19. Akan tetapi sumber lain mengatakan progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan atau perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Selama 20 tahun menjadi gerakan yang sangat kuat di Amerika Serikat banyak guru yang ragu-ragu terhadap gerakan ini. Gerakan progresik ini terkenal luas karena reaksinya terhadap formalisme dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras belajar fisik dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Pengaruh progresivisme terasa di seluruh dunia, terlebih-lebih di Amerika Serikat. Usaha pembaharuan di dalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran progresivisme ini.
   Progresivisme dalam pendidikan adalah bagian dari gerakan reformasi umum sosial-politik yang menandai kehidupan Amerika di akhir abad XIX dan awal abad XX, disaat Amerika berusaha menyesuaikan diri dengan urbanisasi.
Progresivisme sebagai sebuah teori pendidikan muncul sebagai bentuk reaksi terbatas terhadap pendidikan tradisional yang menekankan metode-metode formal pengajaran, belajar mental (kejiwaan), dan kesusatraan klasik peradaban Barat. Pengaruh intelektual utama yang melandasi pendidikan progresif adalah Jhon Dewey, Sigmun Freud, dan Jean Jacques Rousseau.
Dewey menjadikan sumbangan pemikirannya sebagai seorang filsuf aliran pragmatik yang menuliskan banyak hal tentang landasan-landasan filosofis pendidikan dan berupaya menguji keabsahan gagasan-gagasannya dalam laboratorium sekolahnya di Universitas Chicago. Dengan demikian pragmatime kiranya dapat dilihat sebagai pengaruh utama dalam teori pendidikan progresif.
Progresivisme menghendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif. Tujuan pendidikan hendaknya diartikan sebagai rekontruksi pengalaman yang terus menerus agar peserta didik dapat berbuat sesuatu yang intelegen dan mampu mengadakan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dari lingkungan.
Biasanya aliran progresivisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup liberal “the liberal road to culture”, maksudnya adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu), curios (ingin mengetahui, ingin menyelidiki), toleran dan open-minded ( mempunyai hati terbuka).
Menerapkan aliran progresivisme dalam pengembangan pendidikan indonesia berpengaruh besar, karena progresivisme disini merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik” dan aliran ini juga telah meletakan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberi kebaikan, baik fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain dan ini sangat bagus untuk pengembangan pendidikan di Indonesia.
2. Landasan Epistimologis
a. Metode pendidikan aktif
Pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya.
b.  Metode memonitor kegiatan belajar
Mengikuti proses kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar berlangsung kegiatan belajar tersebut.
c. Metode penelitian ilmiah
Pendidikan progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada penyusunan konsep atau rangkaian pengamatan yang sambung menyambung, berakumulasi dan melahirkan teori-teori yang mampu menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena.
d. kerjasama sekolah dengan keluarga
Pendidikan Progresif mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak.
e. Sekolah sebagai laboratorium pembaharuan pendidikan
Sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, tetapi berperanan pula sebagai    laboratoriun dan pengembangan gagasan baru pendidikan.
f. Memberikan soal latihan teka teki kepada anak didik.
g. Membuat kelompok atau grup belajar, dengan mengelompokkan minat masing-masing anak pada suatu topik.
h. Membicarakan topik hangat yang sedang beredar di masyarakat secara bersama-sama didalam ruang kelas.
i. Pendidikan berpusat pada anak
Pendidikan progresivisme menganut prinsip pendidikan berpusat kepada anak. Anak merupakan pusat dari keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan. Pendidikan progresivisme sangat memuliakan harkat dan martabat anak dalam pendidikan. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil. Anak adalah anak, yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Setiap anak mempunyai individualitas sendiri-sendiri, anak mempunyai alur pemikiran sendiri, anak mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan sendiri, yang berbeda dengan orang dewasa.
j. Setiap pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan jadwal ujiannya untuk mata pelajaran yang menurutnya sudah dikuasai.
k. Memilih guru yang direkrut dari mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi.
  1. Landasan Aksiologis
Progresivisme disini merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik” dan aliran ini juga telah meletakan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberi kebaikan, baik fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain.
Aliran ini sangat berpengaruh terhadap pengembangan pendidikan karena aliran ini mengarah ke kemajuan pengembangan pendidikan terutama di Indonesia. Progres atau kemajuan menimbulkan perubahan dan perubahan menghasilkan pembaharuan kemajuan disini mengandung nilai dapat mendorong untuk mencapai tujuan.
Pendidikan progresivisme selalu menekankan akan tumbuh dan berkembangnya pemikiran dan sikap mental, baik dalam pemecahan masalah maupun kepercayaan kepada diri sendiri bagi peserta didik.
Aliran filsafat progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar terhadap dunia pendidikan karena telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan,dan kebebasan kepada anak didik, oleh karena itu, filsafat ini tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab pendidikan otoriter akan mematikan potensi pebelajar untuk mengembangkan potensinya.
Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru yang memberikan warna dan corak dari kreasi yang dihasilkan dari situasi yang tercipta secara edukatif. Setiap pebelajar mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang dimilikinya yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Potensi tersebut bersifat kreatif dan dinamis untuk memecahkan problema-problema yang dihadapinya (Hamdani, 1993:146).
SUMBER:
Ali, H. B. Hamdani. 1987. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kota Kembang.
Barnadib, Imam. 1998. Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode. Yoyakarta: Andi Offset.
http://www.arizalf.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEBUAH PAGI DAN ANAK BURUNG YANG MALANG

          Angin pagi adalah tangan yang tak kasat mata, yang berembus melalui pepohonan tua di halaman rumah, daun-daunnya gemerisik menggig...